Powered by Blogger.

Coffee Break Panda

BY DEVANDA C.P.N

 

Menjadi seorang muslim yang taat tentu tidak hanya memaksimalkan ibadah fisik yang dianjurkan oleh Allah, tetapi juga maksimal dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya aspek terpenting yang dimiliki setiap muslim adalah cerdas dengan kaya wawasan secara syamil (menyeluruh) dan mutakammil (sempurna). Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

 

Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna (QS At-tin: 4). Allah anugerahkan nafsu agar membuat manusia memiliki berbagai keinginan. Tapi, manusia juga memiliki akal yang membuatnya mampu membedakan yang mana baik dan buruk. Sebab dibekali akal itu lah manusia dianjurkan untuk berpikir. Dengan tegas Allah memerintahkan manusia untuk senantiasa berpikir dan merenungkan setiap peristiwa yang terjadi dan berbagai penciptaan-Nya. Dibuktikan dengan pengulangan kalimat yang menegaskan anjuran untuk berpikir.

“….Apakah kamu tidak berpikir?” (Ali-Imran:65)

“…hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,” (Ar-Ra’d: 19)

 

Berpikir dan berilmu begitu penting sebab Allah turunkan pelajaran untuk hamba-Nya yang mau berpikir dan menuntut ilmu, antara lain:

1.      1.Menguatkan aqidah

Jika akal kita aktif digunakan maka akan membentuk dan menguatkan kepercayaan (aqidah) kita yang dianut secara sadar. Selama proses berpikir, merenungkan kehidupan, tentu akal akan sampai pada pengakuan bahwa tidak ada satupun makhluk yang berkuasa atau sanggup menciptakan, oleh karenanya, ada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Agung di balik berputarnya kehidupan ini.

Proses berpikir akan melahirkan ilmu. Oleh sebab itu tujuan utama dari ilmu yang dianjurkan oleh islam adalah untuk mengenal Allah SWT.


2.        2. Menjalankan Tugas sebagai khalifah

Manusia dipilih Allah selain karena merupakan mahluk yang sempurna, tetapi Allah percaya kepada manusia dengan memberi amanah terhadap pengelolaan alam semesta. Menjalankan fungsi sebagai khalifah, maka tugas manusia adalah menjaga bumi dari kerusakan dan kehancuran, kemudian mengelola, menata, dan memanfaatkan segala yang ada di alam ini untuk kepentingan manusia. Sedangkan terhadap sesama manusia, tugas khalifah adalah memimpin manusia lain menuju kehidupan yang adil, makmur, sejahtera, dan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Walaupun manusia mampu mengelola yang ada di bumi, namun hal tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya, melainkan akibat Allah SWT yang menundukkannya untuk manusia. (QS. az-Zukhruf ayat 12-13).

 

Ilmu-ilmu yang Harus Dimiliki oleh Manusia

Menuntut ilmu memang diwajibkan oleh manusia namun tidak berkewajiban untuk mengetahui semua ilmu yang ada. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang paling dibutuhkan saat itu, tergantung pada keadaan yang sedang dan akan ia jalani.

Menurut Ibnu Taimiyyah antara lain:

  1. Ilmu aqidah
  2. Ilmu yang berhubungan dengan keyakinan kita bahwa Allah adalah Sang Pencipta.
  3. Ilmu syariat individu
  4. Ilmu mengenai perintah dan larangan dari Allah SWT bagi masing-masing individu.
  5. Menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Quran
  6. Ilmu mengenai al-Qur’an, kitab suci yang berisikan tuntunan langsung dari Allah SWT untuk manusia.
  7. Ilmu lainnya yang diperlukan oleh masing-masing individu, dan ini sifatnya relative tergantung pada keperluan individu tersebut (profesinya).

 

Pokok-pokok ilmu di atas adalah kombinasi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Poin nomor satu sampai tiga digolongkan sebagai ilmu agama yang mana merupakan suatu kewajiban muslim. Sedangkan poin nomor empat kita golongkan sebagai ilmu dunia. Dalam menjalankan kehidupan di dunia, Allah menciptakan manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang memaksa manusia bergerak untuk dapat memenuhinya, maka harus ada usaha untuk mencukupi kebutuhannya, salah satu syaratnya harus memiliki ilmu agar memudahkan dalam bergerak mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan.

 

Penting bagi seorang muslim untuk dapat menjadi yang paling ahli di bidangnya agar mampu berdakwah atau menyokong agama islam dengan perannya masing-masing. Islam adalah rahmat bagi semesta alam, oleh karena itu semakin banyak muslim yang berperan dalam roda kehidupan, maka semakin semakin luas rahmat dari islam terasa bagi seluruh penduduk bumi.

 

Manusia merupakan ciptaan Allah yang paling mulia. Sebab kemulian yang dianugerahkan Allah maka manusia dipercaya oleh Allah mengemban beberapa amanah, salah satunya menjadi khalifah. Saat Allah memberi amanah, Allah tidak serta merta hanya memerintah saja, tetapi Allah sudah memberi petunjuk dan bekal, salah satunya yaitu akal untuk berpikir. Dengan anugerah akal itu diharapkan manusia mampu mempergunakan dengan baik untuk agamanya, sebagai jalan mendekat dan tunduk kepada Sang Pencipta. Maka menjadi seorang muslim harus memaksimalkan bekal yang sudah dilimpahkan oleh Allah agar sebagai bekal pula untuk kembali kepada-Nya.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

CINTA. Pastinya tiap orang pernah merasakan cinta, baik cinta pada orang tua, keluarga, maupun pada orang lain. Jatuh cinta adalah hal yang biasa karena pada dasarnya cinta adalah fitrah manusia. Lantas, apakah yang kita lakukan ketika kita sedang jatuh cinta? Ada banyak sekali yang kita lakukan dan tiap-tiap orang berbeda. Mungkin ada yang berusaha kepoin doi; ada yang selalu stalking akun sosmed doi biar tahu kondisi doi, kesukaan doi; mungkin beberapa kaum adam ada yang mendekati doi, mencari perhatian, bahkan mengungkapkan perasaannya. Namun ada juga yang diam dan memendam rasa cintanya, biasanya hal ini dilakukan oleh kaum hawa.

Ada banyak hal yang kita lakukan ketika kita sedang merasakan jatuh cinta. Lalu pertanyaannya adalah apakah anda mencintai Allah SWT, Tuhan yang menciptakan anda? Tentu saja anda menjawab iya. Lantas apakah anda melakukan hal yang sama terhadap Allah SWT seperti anda mencintai seseorang?

Pada Surat Ali Imran ayat 31 telah dijelaskan jika anda mengaku mencintai Allah maka ikutilah Rasulullah Saw, niscaya Allah juga akan membalas cintamu dan mengampuni dosa-dosamu. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah anda sudah bisa dikatakan kalau anda benar-benar mencintai Allah?

Sehingga dapat disimpulkan bahwa cinta adalah sebuah kata kerja. Bila anda mengaku mencintai Allah maka anda harus bertindak dan bekerja sesuai surat Ali Imran ayat 31. Cinta pada Allah tidak bisa hanya dalam kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan mentaati perintah dan larangan Allah SWT.

Waalahhualam.

 September, 2016

Artikel ini saya temukan saat mau mindahin data dari laptop ke drive. Niatnya saya simpan di blog gitu heheuhe.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan teman saya tentang wanita karir dan pengaruhnya dengan anak. Topiknya seputar parenting tetapi diskusi saya kali ini jarang saya temui di buku-buku parenting. So I will share a piece of that.

Dimulai saat teman saya memberi pertanyaan tentang bagaimana pandangan saya soal wanita karir. Ya menurut pandangan saya, wanita karir itu wanita yang tidak full time di rumah tetapi parttime dengan bekerja sambil menjadi ibu. Pandangan ini saya tekankan wanita yang banyak menghabiskan waktu di luar misalkan kerja kantoran, kerja jadi dosen atau guru, sorenya kan baru ada di rumah.

Baca: IBUKK

Kemudian teman saya memancing lagi dengan pertanyaan, hal apa sih yang memiliki pengaruh besar untuk tumbuh kembang anak? Jawaban saya tentu yang utama adalah kasih sayang orang tua serta bagaimana orang tua itu hadir dan menemani tumbuh kembang si kecil. Nah di sini perspektif saya menemani tumbuh kembang anak saat masih kecil. Lalu teman saya memberikan pandangannya yang lain dari hasil analisisnya.

Analisisnya berdasarkan latar belakang dia yang tinggal di masyarakat seperti perumahan atau desa (saya nggak tau tempat tinggal dia berupa desa ya bukan desa, perkotaan ya bukan perkotaan *update: rumahnya kota tapi pinggir katanya wkwkwk, perumahan ya bukan perumahan wkwk) dan bersentuhan secara langsung dengan tetangga. Berbeda dengan latar belakang saya yang dibesarkan sebentar di perumahan kemudian menghabiskan banyak waktu di daerah jalan raya tanpa tetangga. Iya jadi saya tinggal tanpa tetangga, rumah kanan kiri saya gudang dan rumah makan. Jadi tentu saya jarang bersinggungan dengan masyarakat langsung, tetapi saya scale up pertemanan kan lewat organisasi tapi ya beda juga sih wkwk.

Baca: Rumah

Oke gitu ya latar belakang kita berbeda. Analisis dia saat melihat teman-teman di kompleks rumahnya, hasilnya bahwa seorang wanita full time yang menghabiskan banyak waktu bersama si anak dan keluar rumah mungkin hanya keperluan belanja, nggak lama gitu, mereka bisa menjadikan anak yang sukses dalam hal akhlak dan perilaku. Terhindar dari pergaulan bebas gitu lah. Dia cerita bahwa di desa dia banyak orang tua yang memang cukup memberikan kasih sayang tetapi tidak hadir penuh menemani tumbuh kembangnya sebab bekerja di luar rumah atau pun berbisnis yang membuatnya sering meninggalkan rumah. Beda ya hadir dan memberikan kasih sayang. Saat si ibu ini parttime kerja, ibu tidak bisa memperhatikan secara utuh bagaimana pergaulan si anak dengan lingkungannya.  Bukan berarti anak nggak boleh bergaul di lingkungan masyarakat, tetapi memilihkan lingkungan anak menjadi alternatif yang bijak selain yang utama orang tua khususnya ibu harus hadir menemaninya bertumbuhkembang secara full time. Bahkan menempatkan anak sekolah yang berlabel boarding atau islam nggak menjamin si anak bakal terhindar dari pergaulan bebas atau salah pergaulan. Oleh karena itu sangat penting peran ibu hadir menemani anaknya bertumbuh kembang baik di luar maupun di dalam. Memang kasih sayang orang tua sangat penting untuk anak, tetapi mengontrol circle pertemanan atau membentuk lingkungan anak yang terjaga diperlukan peran orang tua dalam pengawasan yang penuh, Sebab lingkungan memiliki pengaruh besar dalam proses anak bertumbuh kembang (menurut teman saya). Setelah saya pikir-pikir ya I agree sih.  

Saya jadi teringat dengan beberapa guru parenting inspirasi saya, beberapa dari mereka ada yang diminta suaminya untuk berhenti berbisnis atau berkarir atau berhenti menulis bisa jadi, atau seorang sarjana yang ujung-ujungnya jadi full time mother (saya nggak mau nyebut sebagai ibu rumah tangga ya) hanya agar fokus menemani tumbuh kembang anak. Agar bisa hadir sebagai full time mother buat anak. Sebab mengasuh dan menumbuhkan anak itu nggak main-main. Bahkan kita harus tau ilmunya dan bersikap bijak. Salah sedikit dalam bersikap akan memiliki pengaruh luar biasa dalam pola pikir atau tingkah laku sang anak. Susah ya jadi orang tua ternyata. Yaiyalah amanah yang besar itu wkwk bedain sama amanah kampus makanya wkwk. Katanya kalau mau nggak dapat amanah kampus nikah aja, nah pas nikah ada amanah anak yang lebih besar tanggung jawabnya. Hayo pilih mana amanah yang mana buat sekarang yang jadi mahasiwa? Ehehhee. Duh kok jadi nyerempet sih topiknya wkwkwk.

Baca: Menginjak Usia Dewasa

Terus kalau ada sesuatu hal yang tidak diinginkan gimana, misal tiba-tiba suaminya di phk atau bisnis suaminya down atau bangkrut, atau meninggal (naudzubillah jangan sampai ya)? Gimana tuh? Gimana menyiapkan jaminan hari tua (tanpa asuransi)? Nah gimana gimana tuh? Nah sama saya juga punya pertanyaan itu yang saya lontarkan ke cumi-cumi. Jawaban dia cukup berkesan buat saya sebab saya pun belum menemukan sebuah jawaban yang tepat dari buku parenting yang pernah saya baca selama ini.

Jawabannya sederhana, dengan mempersiapkan anak sebagai penerus pencari nafkah selanjutnya. Bukan berarti anak disuruh kerja saat ada hal yang terjadi di luar dugaan ya. Sejak kecil anak dipersiapkan oleh orang tuanya agar mampu memiliki tanggung jawab dan bekal dalam mencari nafkah. Misalkan sejak kecil sudah ditanamkan jiwa entrepreneur dan diberikan pengalaman untuk mendirikan usaha di usia muda tanpa meninggalkan pendidikannya. Atau men-scale-up skillnya sampai terasah. Saya belum kepikiran sih tentang ini sebelumnya dan waktu diskusi jadi “oiyaya bener juga”.

Itu aja sih yang ingin saya share, walaupun kemarin diskusinya nggak hanya topik ini aja, tetapi yang menarik buat saya ya tentang ini hehe. Terima kasih temanku sudah berbagi ilmu yang belum kepikiran sebelumnya. Dan ini hanya opini pribadi ya, kalau kalian memiliki pandangan lain, opini lain terkait definisi wanita karir, atau pola asuh atau pengaruh-pengaruh signifikan ke anak ada yang lebih penting daripada lingkungan ya silahkan… Ini hanya ingin berbagi opini saja yhaa.

Good Luck buat para manusia yang sudah menjadi orang tua dan yang belum menjadi orang tua berbakti terus sama orang tua ya, jangan dinakalin karena jadi orang tua itu nggak gampang hehe. Saya juga belum ngerasain kok gimana susahnya jadi orang tua, jadi cuma bisa ngomong untuk saat ini hehehehe.



#30haringeblog
#30haribercerita
#challenge30haringeblog
#30harinulisblog 
#harikeduapuluhtujuh


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hari Ibu memang sudah terlewat, tapi kali ini saya pengen nulis my uneg-uneg, oke. Kemarin saya mampir beli pecel setelah mengantar adek sekolah. Warungnya ramai dipenuhi oleh orang tua dan anak kecil berseragam yang siap berangkat sekolah. Kemudian saya mikir sepanjang jalan pulang. Kasihan ya anak-anak kecil yang tidak pernah atau jarang merasakan masakan ibunya. Inget lagi pas kemarin main ke rumah temen, ia cerita kepoonakannya masih duduk di sekolah dasar, menghabiskan harinya di rumah temen saya kemudian jam 10 malam baru dijemput orang tuanya sepulang bekerja. Ya kedua orang tuanya adalah pekerja kantor. Saya membayangkan kasihan anak kecil itu masih kecil tapi sudah mendapat kasih sayang yang minimal.

Keinget ibu saya jadi lebih bersyukur. Saya sudah merasakan keenakan dan kenikmatan hidup dari kecil sampai sekarang dibesarkan dengan dibersamai orang tua terutama ibu. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Dulu waktu saya kecil berpikir ah kenapa sih ibu nggak bekerja aja biar makin cukup kebutuhan keluarga. Pikir saya waktu masih kecil yang tidak diturutin untuk beli mainan wkwkkw. Tapi sekarang saya tau jawabannya dan keadaan itu membuat saya lebih bersyukur.

Bayangin pagi-pagi subuh sudah bangun, masakin buat sarapan, isi air minum, bawain bekal nasi, buah, jajan, duh paket complete. Ayah saya pun juga dibawain bekal. Pulang sekolah dijemput ibu terus diajak mampir ke toko, dibeliin jajan, sampai rumah langsung tersedia makan siang, biasanya dibuatin jus, duh gizi lengkap. Terus dilanjut kamar udah rapi, enak langsung bobok siang, ditemenin ibu. Sore dibangunin ibu, dimarah-marahin suruh mandi sulit amat ni bocah. Kemudian disiapin alat ngaji terus diantar ngaji. Pulang-pulang ngaji langsung makan malam yang sudah tersedia tanpa perlu repot-repot mikir makan malam apa ya, belum bikinnya yang super ribet. Terus diomelin suruh matiin TV, disodorin buku pelajaran yang membosankan menurut anak-anak. Kemudian jam 22.00 disuruh bersiap tidur, membangun kebiasaan buang air kecil sebelum tidur, kemudian diselimutin, ditengokin dan diperhatiin udah tidur belum. Duh romantis sekali sebenernya Cuma kita sebagai anak buta aja sih nggak melihat sisi romantisnya seorang ibu ke anak. Belum kalua sakit, langsung jadi ratu. Semua tersedia dan terantar dengan baik di atas tempat tidur. Dua bulan lalu saya sakit di tanah rantau, kelabakan bingung minta tolong siapa, semua harus dilakuin sendiri, nggak ada yang instan tersedia, duh. Langsung tamparan keras buat bersyukur karena selama ini I have mother who always be there in beside me.

Setelah saya amati, analisis, dan pikir-pikir, nggak mudah banget buat jadi ibu apalagi kayak ibu saya. Udah ngurus anak dengan bejibun drama, belum lagi ngeladenin ayah saya dengan porsi yang sama atau lebih dari anaknya, tambah lagi ngurus rumah, duarr. Ya ibu saya memang tidak bekerja, bukan wanita karir pula, ataupu pengusaha dari rumahan, just a housewife, but in her role many reward fields abound. Kadang orang mikir atau contoh saya lah, ngerasa ibu rumah tangga itu ya kayak rutinitas biasa, nggak wow kayak orang-orang yang meniti karir mungkin sampai ke seberang benua. Tapi sebenernya di rumah itu banyak sekali ‘lahan ibadah yang kerasanya memang kayak rutinitas’ tapi sebenernya itu mengandung ibadah yang amat besar dan nggak gampang. Riwuh sama rumah, anak, suami, bahkan riwuh sama ibu-ibu sayur buat nawar harga. Dan keriwuhan itu pun kalua dilihat sudut pandang lain, itu adalah ibadah. Mungkin emak-emak yang dulu jadi aktifis kampus dan kemudian setelah menikah jadi berkutik di rumah aja itu pernah ngerasa amal yaumi nggak kekontrol dengan baik gara-gara riwuh sama anak lah, suami, pelayan pln buat bayar listrik dll. Padahal segala drama yang terjadi itu sama-sama ibadah. Tinggal gimana ibuk-ibuk ini memaknai ngurus anak, ngurus suami, ngurus rumah, adalah ibadah. Misal anak tantrum, ya jangan marah, nahan marah kan ibadah, plus kalau istighfar biar anak cepet ilang tantrumnya kan juga ibadah. Atau ditinggal suami tidur pas cerita ya jangan ngambek wkwkkw tapi sebel aja wkwk. Enak banget gua ngomong haha. Belum ngerasain padahal.  


Ya sudah lah para penonton blog saya. Itu Cuma uneg-uneg saya yang terlintas selama perjalanan menuju rumah abis beli pecel wkwk. Buru-buru ditulis keburu lupa entar. Oh iya saya belum ngerasain ya suka duka jadi ibu karena masih jadi mahasiswa wkwk. Saya pun belum tentu mampu menjadi ibu yang sesempurna itu, masih harus banyak belajar, praktikan apa yang gua omongin wkwk, dan nulis lebih mudah daripada praktiknya wkwk. Tapi ya kita sama-sama buat jadi yang terbaik lah yaaa. Semoga tulisan saya bisa dijadiin pelajaran, diambil yang baek-baek, dan  bisa meningkatkan kecintaan kita sama ibu dan peran kita dimanapun. Saya nggak maksa kalian jadi ibu rumah tangga. Silahkan mau ambil peran apapun itu pilihan kalian. Yang penting maknai peran kalian sebaik mungkin yaaa salah satunya sebagai ibadah kalian.

Selamat hari ibu….
Terima kasih yuk ke ibu kita…
Sayangi diaa yaaa…
Wkwkkw.


#30haringeblog
#30haribercerita
#challenge30haringeblog
#30harinulisblog 
#harikedua

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Berkali-kali saya pernah bilang ke twitter kan terkait memberi semangat teman-teman untuk siapa saja yang menempuh jalan kebaikan di mana pun berada, untuk kalian yang memilih jalan perjuangan, dan untuk kalian yang menjalani kehidupan sebagai penikmat. Semua baik dengan cara kalian masing-masing kok. Nggak perlu bersaing kebaikan lah, karena semua yang kalian lakukan selama dalam lingkaran norma kehidupan tetap baik.

Anyway, I’ve just met with my friends twelve days ago, yeay. Lama banget udahan. Setelah meet up biasa lah saya mengambil hikmah dari pembicaraan teman-teman haha. I think that every single has choice in their life. And every choice has reason why you choose them. Tiap orang memiliki pilihannya masing-masing dan alasan tertentu why you do it. Yak hal serupa telah saya lihat dari teman-teman SMA yang sudah lulus. Hidup lebih banyak warna saat kita menginjak usia dewasaa. Ketika masa dibangku-bangku pelajar hidup memang masih monoton mayoritas. Sama-sama menempuh pilihan bersekolah, pakai seragam sama, uang saku beda tipis lah antar anak, punya tujuan jangka pendek yang sama; yang SD bercita-cita msuk SMP favorit dan yang SMP bercita-cita masuk SMA favorit. Saat lulus SMA, pilihan hidup lebih berwarna. Ya tau lah ya nggak usah saya sebutin warna-warna kehidupan.

Baca: PelajarTingkat Akhir

Kadang itu saya senang waktu lihat teman-teman sudah (berani) menentukan pilihan mereka dengan resiko masing-masing yang dibawa pada tiap pilihan tersebut. Oh you’re all grown up dear. Semangat kalian semua yang menempuh jalan kebaikan melalui pilihan kalian. Setiap pilihan tersebut ada alasan kuat yang membuat kalian bertahan dalam pilihan terserbut. Jangan sampai goyah.

Cuma yang membuat saya miris ini ya, ketika kita sudah saling menghargai pilihan masing-masing, masih banyak teman-teman yang mengutuki pilihan dengan pikiran-pikiran sempit. Membatasi pilihan tersebut dengan angan-angan yang kurang open minded. Contohnya masih banyak yang mengutuki pilihan jurusan dengan membatasi ruang pekerjaan nantinya. Padahal kita ini sudah hidup di era milenial loh. Revolusi industri 4.0. Jenis pekerjaan berkembang luas menembus jendela kaca rumah-rumah. Artinya pekerjaan sudah mampu dilakukan di kamar sendiri. Belum lagi yang sedang gencar-gencarnya mewujudkan 1000 start up. Dinamika profesi di kalangan generasi Z melintang luas. Pekerjaan freelance diperkirakan akan mewabah di masa depan. Masanya di mana kita membuat manfaat bagi yang lain melalui memberi peluang pekerjaan kepada yang lain, alias menjadi entrepreneur. Tapi tidak menutup kemungkinan pekerjaan lain profesi yang lain juga tetap dibutuhkan. Semua menjalankan sesuai perannya. Nggak bisa kita menyamakan diri dengan orang lain, lha wong peran kita udah berbeda. Perbedaan peran lagi-lagi diakibatkan oleh pilihan yang kita tempuh.

Jangan berpikir kalau dunia sedang mengejekmu. Berpikirlah kalau dunia tengah mengajarimu sesuatu. Setiap manusia adalah pemeran utama dalam hidupnya masing-masing.

Kalau pun kita sedang terjebak dalam pilihan tersebut, percayalah semua itu ada alurnya. Yang pasti itu alur nggak lepas dari skenario Pembuat Kehidupan. Yang penting kalian tetap menebar kebaikan sesuai peran dan pilihan kalian masing-masing. Jangan sampai sifat iri atau ‘pengen’ atau menjadikan pilihan orang lain menjadi toxic bagi kalian, yang kemudian menggoyahkan pilihan kalian alias minder. Panjang bat dah. You’re not child again, dear. Meskipun saya juga masih belajar jadi dewasa, tapi saya yakin salah satu tanda kedewasaan saat kalian berpegang sama pilihan kalian dan komitmen.



Apalagi pilihan terberat menurut saya pasca lulus sarjana. Berbagai pilihan melintang dengan resiko masing-masing. Dan kadang kita sibuk melihat teman-teman yang udah ‘di atas’ atau udah ini, itu, itoh, wkwk tapi kita lupa sebenarnya saat kita ‘di atas’, kita lupa sama teman dan lupa BERSYUKUR. #ngomongapaseh. Enak banget saya ngomong kayak gini wkwk, tapi ini uneg-uneg saya dan ini blog saya wkwk. Kalau saya denger dan menilai dari kakak-kakak kenalan saya yang baru lulus, atau yang sudah kerja terutama perempuan, mereka bilang banyak hal yang membuat perasaan kita takut atau ragu untuk menentukan sebuah pilihan. Ada yang sudah dapat kerja dengan posisi keren, beasiswa S2, bisnis sukses, ada juga yang nyaleg wkwk, jadi founder, life goal relationship, and many kinds of life wkwk. Ya namanya juga hidup. Kekhawatiran akan masa depan juga udah jadi sifat manusia kan? Ya namanya juga hidup. Kayak puzzle kan emang hidup itu. Pada akhirnya kerumitan-kerumitan juga bakal ada jalan keluarnya. Pilihan-pilihan yang masih bercecer akan menemukan sang pemilih.


#ngomongoposeh



btw, jujur deh saya bingung mau kasih judul apa wkwk



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Buat teman-teman yang pernah ikut proyek saya dengan teman-teman waktu SMA pasti tidak asing sama judul ini yang berulang kali saya jadikan modus buat mempengaruhi kalian biar mau dateng ke kajian wkwkwk. Sampai temen saya yang hedon dan nggak pakai jilbab mau dateng buat kepoin apa sih Rekening Cinta haha.



Okey bahasan saya kali ini cukup berat wkwk. Saya nggak akan bahas banyak-banyak perihal cintanya tapi mau bahas ketika kita sudah mengambil tabungan cinta wkwk. Jadi kapan kita pantas mengambil tabungan cinta kita? Wkwk

Istilah ini saya dapat dari temen saya yang memberi masukan ketika kita pengen meningkatkan kuantitas yang dateng ke kajian. Teman saya ini dapat ide ternyata dari guru liqo wkwk (kalau nggak salah ingat ya). Maksud istilah ini tuh kita menyimpan kepingan-kepingan cinta #asik sebelum memecah nanti setelah waktunya wkwk, dengan modus biar temen-temen menghindari pacaran dan lebih memikirkan persiapan.

Wah apakah saya bahas topik yang berat? Tentu wkwk tapi kata guru saya membahas hal kayak gini itu nggak perlu dihindari karena perihal pernikahan itu memang hal yang krusial. Menikah adalah sesuatu yang sangat-sangat wow dalam kehidupan manusia. Wkwk lebay banget sih. Ya gimana ya... terjadi perubahan besar. Coba banyangkan, tiba-tiba ada makhluk asing yang belum begitu kenal banget, ada dalam satu rumah sama kalian dan bakal ketemu kalian setiap detik wkwk. Orang asing itu nantinya juga bakal tau aib kalian, bakal tau segala hal tentang kalian dan menghabiskan kehidupan ini bersama doi. Apalagi nih yang perempuan mengabdikan kehidupannya sama doi yang tentu lebih lama dari pada mengabdi sama orang tua. Ayo coba kita hitung. Rata-rata manusia normal Indonesia hidup sama orang tua sampai usia 18-20 tahun. Usia 20-25 tahun kita hidup sendiri. Rata-rata usia umat manusia 63 tahun. Sekarang dihitung yuk, 63-25= 38 tahun. Kalian mengahbiskan sama manusia yang awalnya bukan siapa-siapa, yang awalnya jaim, selama kurang lebih 38 tahun. Lucu ya memang hidup ini wkwk. Apanya yang lucu tapi wkwk.

Nggak apa-apa sih 38 tahun, yang penting selama itu jangan disia-siain. Kalau saya ambil pelajaran dari film di youtube ini ya, yang penting kan niatnya ibadah. Nah ini makanya pernikahan disebut-sebut sebagai penyempurnaan ibadah. Menyempurnakan separuh agama. Bayangin deh separuh agama coy. Pasti tanggung jawabnya gedhe banget. Lha wong kita yang masih hidup setengah agama aja, ibadah kita masih terseok-seok, hidup kita masih mudah mengeluh, tanggung jawab udah kita anggap besar. Ya Allah, makanya kan perlu disiapkan. Nah kalau di sekolah pra-nikah yang saya adakan saya temen-temen waktu itu ada kurikulumnya #asik. Ada 10 kurikulum mulai dari tata cara, psikologi pra-nikah, psikologi kesehatan, kesiapan mental, kesiapan materil, kontrol emosi, sampai yang nggak lupa parenting. Kadang tuh kita terlalu sibuk kaderisasi di rohis kita tapi lupa kaderisasi generasi #eak. Sayang banget sekolah pra-nikah yang saya adakan ngga bisa merealisasikan 10 kurikulum tersebut. Cuma 3-4 bulan kita bisa merealisasikan, itu pun sebulan sekali. Yaa gimana yaa semester dua saya sama temen-temen soalnya fokus ujian. Gila ya nggak nyangka saya sama temen-temen merealisasikan ide ini di semester awal kelas 12 wkwk.

ini dia ciwi ciwi seterong yang jadi panitia wkwk
Sebab rekomendasi juga dari guru saya sih, kata beliau misal usia kalian 18 tahun ya dan baru nyadar kalau pernikahan itu perlu disiapkan, terus kalau kalian punya target usia 22 tahun, artinya kalian baru mempersiapkan selama empat tahun. Padahal tanggung jawabnya besar banget brow dan kalian persiapkan cuma empat tahun aja. Itu sih kata guru saya. Cuma nggak ada kata terlambat kok buat memulai kata belajar. Tinggal niat kita sih. Saya juga lupa sebelumnya tentang ini wkwk. Tapi nggak memungkiri juga banyak pemuda yang nikah muda, ya it’s ok. Wong anak kuliah juga sudah ada. Ya semua itu tergantung antar pribadi, keluarga, dan takdir Allah wkwkwk.

Intinya sih menurut saya, hubungan terbaik tercipta karena melibatkan Allah, komunikasi, dan pemahaman antar pasangan. Perihal yang memahami itu saya belajar dari baca buku berjudul Men are from Mars, Women are from Venus. Keren pokok bukunya, cuma ya buku terjemahan hehe. Buku ini menurut saya lebih ke seni dalam memahami perempuan dan laki-laki yang cenderung memang memiliki kodrat berbeda wkwk. Kapan-kapan saya bahas ya gais di blog saya perihal buku ini hehe. Nggak janji karena saya belum kelar-kelar bacanya soalnya kata-katanya berat euy, jadinya harus bener-bener diresapi wkwk.

Saya bahas ini biar kalian juga sadar termasuk reminder saya juga biar sadar wkwk kalau semua itu perlu dipersiapkan. Saya ngomong kayak gini juga bukan berarti udah siap. Oh tentu masih jauh dari kata siap. Saya juga baru belakangan ini sadar kembali setelah beberapa bulan terlupakan perihal ini wkwk. Terus saya ingat dan dapat ide buat nulis ini setelah obrolan kemarin hmm. 

Karena sebenarnya cinta itu indah, sayang banyak yang tergesa menikmatinya hingga hambar tak berbekas keberkahannya.   



doain saya istiqomah juga ya wkwk. semoga kalian yang baca juga istiqomah gais.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About Me

About Me
Hallo, I'm Devanda! Seorang pelajar absurd yang nyasar di platform digital bernama blog dan suka ngoceh random dalam bentuk tulisan. Yuk kepoin blog aku dan berteman, berdiskusi bersama lewat dm ig: @pandamonokurobo atau drop ur email on devancpn30@gmail.com [Klik gambar selengkapnya]

Klik Follow dong biar seneng

Blogger Perempuan

Follow Sosmedku dongs

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Postingan Populer

  • Me Time
    Salah satu hikmah yang saya ambil saat saya sedang sakit di bulan November 2019 adalah tentang me time. Selama saya sakit kan goler-go...
  • OSPEK Part II: Maba Rebel
    Hari kedua ospek di bulan Agustus di usung oleh fakultas. Yaaaa ospeknya begitulah. Aku jarang main-main sama temen sejurusan waktu sebe...
  • Surabaya
    oya saya lupa nggak sempat foto-foto karena ngejar waktu takut kemalaman. Cuma ambil sedikit sekali foto. Sebenarnya pergi ke Suraba...

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  January 2022 (1)
      • Hal yang Aku Sesali Selama Menjadi Mahasiswa
  • ►  2021 (41)
    • ►  November 2021 (5)
    • ►  September 2021 (2)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  May 2021 (25)
    • ►  April 2021 (5)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (1)
  • ►  2020 (75)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  May 2020 (19)
    • ►  April 2020 (15)
    • ►  March 2020 (2)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (27)
  • ►  2019 (19)
    • ►  August 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  June 2019 (2)
    • ►  May 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  March 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (11)
  • ►  2018 (35)
    • ►  December 2018 (15)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (2)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (4)
    • ►  July 2018 (8)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
  • ►  2017 (3)
    • ►  December 2017 (2)
    • ►  November 2017 (1)

Categories

  • #30daysBPN
  • cerita receh
  • Curhat
  • Event
  • life
  • Makanan
  • Opini
  • parenting
  • review
  • Sejarah
  • semester 1

Kenalan dulu dong

Devanda C.P.N
View my complete profile

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates