Powered by Blogger.

Coffee Break Panda

BY DEVANDA C.P.N


Menjadi manusia selayaknya kita seperti tumbuhan yang terus bertumbuh dan memberikan manfaat untuk sekitar sampai pada waktunya tumbuhan tersebut tumbang tak berdaya. Dalam proses memberikan manfaat demi menunaikan fungsi manusia diciptakan, kita dituntut untuk terus bertumbuh dan berkembang. Banyak hal dan bidang yang harus terus kita asah sebagai langkah menguatkan posisi kita sebagai manusia yang bermanfaat.

Namun banyak orang bingung dalam menentukan peran yang akan terus diasah untuk semakin bertumbuh. Atau sebagian orang malah menganggap remeh soal bertumbuh. Parahnya, ada pula yang tidak paham bahwa dirinya harus bertumbuh dan berkembang.

Memang berkembang mmembutuhkan keikhlasan, kesabaran, bahkan pengorbanan, tetapi banyak yang lupa untuk mengukur proses berkembangnya telah sejauh mana atau malah kita bingung menentukan parameter tersebut. Iya, bagi sebagian kecil orang memiliki ukuran-ukuran yang mengukur sejauh mana proses hidupnya. Tetapi banyak diantara kita yang mengabaikan sebuah parameter dalam bertumbuh. Banyak diantara kita menjalani sebuah pilihan untuk bertumbuh tanpa adanya ukuran yang jelas bahwa apakah kita sudah berkembang atau belum. Atau ternyata kita sadar bahwa parameter atau ukuran dalam bertumbuh perlu tetapi kita bingung sendiri menentukannya.

Iya saya pernah melalui fase bingung itu. Malah baru aja mengalaminya. Saat saya memiliki target untuk merasakan pengalaman bekerja parttime, Allah mengabulkan doa saya lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Alhamdulilah. Bahkan saya tidak perlu melamar kerja parttime, tetapi ditawari. Nah saya merasa bahwa saya telah berkembang karena sudah memiliki pengalaman bekerja. Tetapi tiga bulan kemudian saya berpikir bahwa anggapan saya telah berkembang itu hanyalah asumsi dan perasaan saya saja. Bahwa sebenarnya banyak hal yang harus saya manfaatkan kesempatan dan peluang dalam pekerjaan saya sebagai wadah dan proses belajar saya menjadi tumbuh. Tapi saya hanya berasumsi tanpa adanya takaran yang jelas bahwa saya telah bertumbuh dan berkembang dalam pekerjaan yang saya geluti. Saya harus memiliki indikator-indikator atau target-target yang harus saya capai demi bertumbuh dan berkembangnya saya dalam ranah pekerjaan saya.

Jadi indikator apa yang dipakai dalam mengukur sebuah proses yang kita jalani? Yang tau jawabannya adalah diri sendiri. Seni memahami diri sendiri sangat diperlukan ya ternyata. Iyaa kamu sendiri yang tau ukuran-ukuran proses kamu dalam bertumbuh. Diri sendiri lah yang bisa nentuin parameter bahwa ‘kita telah bertumbuh’, ‘kita telah berproses’, ‘kita telah berkembang’. Target-target yang berderet lah yang menjadi arah dan ukuran dari sebuah proses.

Udah bertumbuh sejauh apa dari semester 1-3? Udah punya relasi pertemanan sampai mana? Skill apa saja yang sudah berkembang sejauh kamu hidup? Dan ingat, target tiap orang beda-beda. Ga usah dibandingin. Contoh, target relasi pertemanan saya adalah orang-orang pengusaha atau pebisnis dengan jumlah minimal yang sudah disepakati oleh diri sendiri, ya gausah pengen saat yang lain bisa scale-up pertemanan sampai di kalangan artis. Atau ngga usah meremehkan juga saat orang lain memang hanya ingin membangun relasi di fakultasnya aja. Mungkin aja dia seorang introvert dan capaian setingkat fakultas sudah sangat bagus untuk dirinya ya nggak papa. Yang tau ya cuma diri sendiri.

Perlu diingat pula, masing-masing targetan atau goal atau ukuran tersebut pun diambil atau dipilih dengan alasan dan pertimbangan masing-masing pribadi. Jadi ya ngga usah nyinyir saat target orang lain terlihat rendah dalam sudut pandang kita. Dan ngga usah pula pengen saat target orang lain jauh melampaui target kita. Tolong pahamilah dirimu sendiri apa butuhnya dan sadar diri atas kapasitas diri ya sayang.


Ciahh serius amat ini postingan wkwk. Biasanya ngelantur tulisannya wkwk. Opini di atas disupport dari materi bedah buku Arah Musim pada bulan November, terus ditambah-tambah dikit lah biar nggak plagiat eheeee.



#30haringeblog
#30haribercerita
#challenge30haringeblog
#30harinulisblog 
#harikelima




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Baiklah postingan ini telah direncanakan sejak setahun yang lalu setelah saya pindah kos. Eh belum terlaksana sampai saya sudah pindah dua kali. Hmm nomaden ya hidup saya. Sebenernya saya dapat istilah nomaden karena dikatain sama temen saya pas mau antar buku, terus saya bilang “eh tapi belum tau, soalnya mau pindah juga”. Terus dikatain nomaden haha. Jadilah judul blog ini.

Well saya akan bercerita mulai awal maba saya tinggal dimana sampai sekarang. Mulanya karena saya kena ukt mahal, langsung bingung cari kosan yang murah maksimal Rp300.000,00. Karena jatah saya dikurangin haha. Usut punya usut, abis cari-cari sekitaran UB, eh gak nemu. Yaiyalah mana ada kosan 300 ribu deket UB #barutau. Yaudahlah jauh gapapa kosnya kan bawa motor. Heh maba belum boleh bawa motor, Dev. Ya bodo amat wkwk. Kan maba bandel aku. Dapat lah kosan murah jauh banget dari UB. Segala drama dan kesabaran telah terlewati selama satu semester pertama di perantauan. Apa dramanya? Ya capek karena jauh apalagi kalau ada barang tertinggal, terus nggak bisa istirahat karena nunggu jeda kelas mau pulang nanggung, pulangnya malam-malam kan juga nggak baik di jalanan, dan lain lain lain lah.

Kemudian orang tua saya menganalisa untung-rugi kosan saya ini hmm. Pokok setelah Analisa panjangg, akhirnya diminta untuk pindah kos dekat UB dengan harga standar lah. Mungkin juga karena orang tua kasihan saya, pulangnya malam-malam karena saya yang ambis di kampus. Ambis organisasi maksudnya hahaha. Padahal nggak ada niatan ambis. Plus, orang tua percaya ke saya dengan berhasil membuktikan kalau saya aktif organisasi atau kegiatan mahasiswa tidak akan memengaruhi nilai ip saya. Alhamdulilah yaaa.

Finally saya pindahan di Februari 2019. Ada drama juga nih pindahan kosan. Sampai saya nangis karena bohong sama ibu kos, nggak enak kalau pindahan hadeuh hadeuh. Saya minta tolong mbak-mbak buat bantuin pindahin barang pake motor dengan jarak sekitar 7,3 km dari kosan lama ke baru dalam waktu 30 menit sekali jalan whehe. Gila saya wkwk. Apalagi saya punya banyak barang wkwk kayak wajan dll. Lima kali saya bolak balik naik motor sambal ngangkut barang-barang. Gila wkwk. Sampai jam 11 malam baru selesai, itu pun kurang lemari plastis belum sempat terangkat. Jam 11 malam itu langsung saya antar pulang mbak baik hati yang sudah bantuin saya. Dramanya adalah saat saya balik ke kos baru, eh udah dikunci sama mbak kos #aduh. Saya nggak bisa telpon mbak kos karena nggak bawa apa-apa termasuk hp. Ya sudah lah untung mbak tadi punya firasat ini dan bilang “nanti kalau terkunci tidur kosku aja, Dev”. Tawaran mbaknya lah menjadi penyelamat saya buat istirahat.

Dua hari kemudian, saya ambil lemarinya sama temen sekaligus pamitan dan minta maaf. Setelah urusan perkosan selesai, langsung cus ke Batu buat main wkwk.

Satu semester saya nyaman sekali tinggal di kos baru, nyaman sama dapurnya jadi masak-masak terus. Dukanya cuma ribet kalau kekunci, mbaknya sulit bangun. Terus ada beasiswa saya iseng coba tanpa berharap besar atau malah nggak berharap wkwk. Eh ternyata lolos, ya ampyun. Alhamdulilah lah ya wkwk. Beasiswa asrama yang saya ikuti. Yah pindahan lagi wkwk.

Karena kosan saya bayarnya 3 bulan sekali dan ternyata habis di bulan Agustus, saya nego bapak kos agar saya bayar sebulan aja, karena saya kira Agustus sudah mulai boyongan ke asrama. Eh ternyata kagak dong. Pertengahan September baru boleh pindah ke asrama. Hadeuh saya tinggal di mana ini nanti. Mau tambah sebulan lagi, Bapak kos menutup kesempatan sebab saya udah dikeluarin grup wkwk. Akhirnya saya negosiasi dengan pihak asrama buat mindahin barang aja, masalah nginep perorangan gampang dimana aja bisa, yang penting barang-barang aman dulu. Alhamdulilah diziinkan tinggal lebih dulu saya oleh asrama mulai tanggal 1 September. Setelah saya pulang dari Solo karena acara Youlead, saya mulai mencicil kemas-kemas, beres-beres. Antar barang pelan-pelan naik motor, toh nggak jauh kayak dulu. Sampai suatu ketika setelah saya kelas dipanggil sama temen buat ngobrol sama seorang mas-mas. Eh saya diajakin syuro, ya saya bilang nggak bisa soalnya lagi sibuk pindahan. Nahhh rezeki saya nih ketemu mereka wkwk. Terus ditawarin bantuan sama masnya buat angkut barang-barang di mobil pinjemannya haha, ya ampun ku membuka aib wkwk. Iyalah mobil pinjeman dari keluarga, bener keuun. Alhamdulilah saya hemat energi dan tenaga. Ditemani sama kaput saya huhu. Tersisa barang-barang yang masih saya pakai seperti magic com, buku, dan lain-lain.

Tanggal terakhir bulan Agustus saya diusir sama pak kos, katanya mbak kok belum pindah. Lha kan kesepakatan tanggal 1 September. Terus saya didesak segera keluar tanggal 1 September pagi hari. Bingung lah saya, motor saya dipinjem temen. Terus nyari sana sini, alhamdulilah ada mbak sekdep yang baik. Selamat lah barang-barang saya.

Akhirnya selama dua tahun akan saya habiskan di asrama dan tinggal setahun lagi harus mencari penggantinya. Alhamdulilah seru hidup nomaden wkwk. Nggak ngebayangin nomadennya manusia purba ehehehe.



Terakhir saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam drama nomaden saya ini. Terima kasih ya!!!! Kalau butuh bantuan bilang saja ke saya, sebagai bentuk balas budi saya, haha. Maafkan saya yang nggak romantis ngasih ucapan terima kasih wkwk.

#30haringeblog
#30haribercerita
#challenge30haringeblog
#30harinulisblog 
#harikeempat



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Jadi gaes karena berbulan-bulan kemarin saya skip ngeblog, saya mau ngabarin dan cerita nih wkwk kalau saya tuh sempat sakit agak berat di Malang. Tepat bulan November, tanda-tanda saya sakit pas mabit bareng uaki. Sebelum berangkat mabit udah kerasa agak mual-mual mag gitu, tapi kemudian saya mikir ah nanti kalau sibuk pasti lupa sama sakitnya, akhirnya saya berangkat dibonceng, nggak bawa motor. Malam itu habis makan malam bersama, perut saya kumat sakit. Kemudian saya langsung tau diri ini pasti masuk angin. Untunglah kaput saya peka buat ngerokin saya. Setelah dikerokin lanjut bobok sampai waktunya tahajud bareng (kan mabit ya wkwk). Kemudian habis subuh kepala saya pusing nggak kuat, badan lemes, lanjut tidur lah saya. Hingga mabit mau selesai saya baru dibangunin. Beruntung waktu itu saya tidak membawa motor. Kemudian diantar pulang sama kaput saya, dikerokin lagi, sarapan, tidur lah saya.

Besoknya hari senin, saya sudah siap buat kampanye pemira karena pj-nya saya, pagi masih sempet chat sama si calon. Setelah itu tiba-tiba perut saya sakittt dan BAB lamaa banget. Mual dan BAB adalah kombinasi sakit yang diasumsikan muntaber. Setelah itu jleb, langsung saya mikir, ternyata saya butuh istirahat, butuh off, kalau enggak dan tambah memaksa tubuh saya akan tambah sakit dan parah. Langsung saya chat semua orang-orang penting di amanah (bukan di hidup saya wkwk) buat pamit off dan minta tolong mem-back up semua amanah saya. Deal! Tapi saya tetap masuk kuliah dan pergi ke klinik untuk periksa. Finally, dokter bilang saya gejala tipes. Duh langsung saya cemas, khawatir diopname, siapa yang ngurus.

Selasa, saya tambah parah, badan saya panas, lemes banget nggak biss bergerak. Akhirnya saya minta izin ibu saya buat nggak masuk kuliah pagi. Untung ada temen sekamar saya yang baik hati nyiapin sarapan saya. Kemudian tidur teruss. Sorenya saya memaksa diri buat masuk kuliah karena nggak mau kehilangan jatah absen. Ya saya sudah pernah bolos, masa bolos lagi.

Hari-hari saya di bulan November saya habiskan di ranjang buat rebahan, tidur. Benar-benar off semua agenda dan amanah, kecuali kuliah dan agenda asrama. Itu Sukanya haha bias rebahan terus, bias me-time. Dukanya, saya masih harus menyiapkan makanan sendiri, pergi ke klinik sendiri, dan lain-lain. Tapi selama saya sakit banyak ditemani mbak BMIC yang rela meluangkan waktunya buat nolongin saya. Ada kaput dan mbak-mbak progresif yang masakin daging buat saya. Dan ada temen yang ngasih daging serta nolongin saya pula. DItambah temen asrama yang support terus buat sembuh. Alhamdulilah terima kasih yaaa.

Nah selama saya sakit, saya jadi banyak merenung, banyak mikir, melakukan me time, evaluasi diri, dan mengetahui berbagai kenyataan-kenyataan yang menambah kekecewaan eak eak.

Alhamdulilah minggu terakhir November saya sudah mulai pulih, ibu saya berkunjung akhir November pas saya udah sembuh wkwkwk. Kesempatan sehari buat ketemu ibu dimanfaatkan buat masak daging yang banyak untuk stok makan saya di bulan Desember. Oh ya saya harus banyak makan daging karena hb saya rendah banget. Setelah masak daging, jalan-jalan ke mall, berduaan sama ibu. Pas ibu dating ke Malang, kebetulan banyak rezeki makanan hehe. Alhamdulilah lah.

Dari pengalaman sakit itu, saya ambil pelajaran bahwa saya tidak boleh terlalu hemat buat beli makan wkwkkw. Saya harus sarapan pokok. Harus makan tiga kali sehari. Itu poin terpenting. Terlihat sepele tapi bermakna eak eak.


#30haringeblog
#30haribercerita
#challenge30haringeblog
#30harinulisblog 
#hariketiga

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hari Ibu memang sudah terlewat, tapi kali ini saya pengen nulis my uneg-uneg, oke. Kemarin saya mampir beli pecel setelah mengantar adek sekolah. Warungnya ramai dipenuhi oleh orang tua dan anak kecil berseragam yang siap berangkat sekolah. Kemudian saya mikir sepanjang jalan pulang. Kasihan ya anak-anak kecil yang tidak pernah atau jarang merasakan masakan ibunya. Inget lagi pas kemarin main ke rumah temen, ia cerita kepoonakannya masih duduk di sekolah dasar, menghabiskan harinya di rumah temen saya kemudian jam 10 malam baru dijemput orang tuanya sepulang bekerja. Ya kedua orang tuanya adalah pekerja kantor. Saya membayangkan kasihan anak kecil itu masih kecil tapi sudah mendapat kasih sayang yang minimal.

Keinget ibu saya jadi lebih bersyukur. Saya sudah merasakan keenakan dan kenikmatan hidup dari kecil sampai sekarang dibesarkan dengan dibersamai orang tua terutama ibu. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Dulu waktu saya kecil berpikir ah kenapa sih ibu nggak bekerja aja biar makin cukup kebutuhan keluarga. Pikir saya waktu masih kecil yang tidak diturutin untuk beli mainan wkwkkw. Tapi sekarang saya tau jawabannya dan keadaan itu membuat saya lebih bersyukur.

Bayangin pagi-pagi subuh sudah bangun, masakin buat sarapan, isi air minum, bawain bekal nasi, buah, jajan, duh paket complete. Ayah saya pun juga dibawain bekal. Pulang sekolah dijemput ibu terus diajak mampir ke toko, dibeliin jajan, sampai rumah langsung tersedia makan siang, biasanya dibuatin jus, duh gizi lengkap. Terus dilanjut kamar udah rapi, enak langsung bobok siang, ditemenin ibu. Sore dibangunin ibu, dimarah-marahin suruh mandi sulit amat ni bocah. Kemudian disiapin alat ngaji terus diantar ngaji. Pulang-pulang ngaji langsung makan malam yang sudah tersedia tanpa perlu repot-repot mikir makan malam apa ya, belum bikinnya yang super ribet. Terus diomelin suruh matiin TV, disodorin buku pelajaran yang membosankan menurut anak-anak. Kemudian jam 22.00 disuruh bersiap tidur, membangun kebiasaan buang air kecil sebelum tidur, kemudian diselimutin, ditengokin dan diperhatiin udah tidur belum. Duh romantis sekali sebenernya Cuma kita sebagai anak buta aja sih nggak melihat sisi romantisnya seorang ibu ke anak. Belum kalua sakit, langsung jadi ratu. Semua tersedia dan terantar dengan baik di atas tempat tidur. Dua bulan lalu saya sakit di tanah rantau, kelabakan bingung minta tolong siapa, semua harus dilakuin sendiri, nggak ada yang instan tersedia, duh. Langsung tamparan keras buat bersyukur karena selama ini I have mother who always be there in beside me.

Setelah saya amati, analisis, dan pikir-pikir, nggak mudah banget buat jadi ibu apalagi kayak ibu saya. Udah ngurus anak dengan bejibun drama, belum lagi ngeladenin ayah saya dengan porsi yang sama atau lebih dari anaknya, tambah lagi ngurus rumah, duarr. Ya ibu saya memang tidak bekerja, bukan wanita karir pula, ataupu pengusaha dari rumahan, just a housewife, but in her role many reward fields abound. Kadang orang mikir atau contoh saya lah, ngerasa ibu rumah tangga itu ya kayak rutinitas biasa, nggak wow kayak orang-orang yang meniti karir mungkin sampai ke seberang benua. Tapi sebenernya di rumah itu banyak sekali ‘lahan ibadah yang kerasanya memang kayak rutinitas’ tapi sebenernya itu mengandung ibadah yang amat besar dan nggak gampang. Riwuh sama rumah, anak, suami, bahkan riwuh sama ibu-ibu sayur buat nawar harga. Dan keriwuhan itu pun kalua dilihat sudut pandang lain, itu adalah ibadah. Mungkin emak-emak yang dulu jadi aktifis kampus dan kemudian setelah menikah jadi berkutik di rumah aja itu pernah ngerasa amal yaumi nggak kekontrol dengan baik gara-gara riwuh sama anak lah, suami, pelayan pln buat bayar listrik dll. Padahal segala drama yang terjadi itu sama-sama ibadah. Tinggal gimana ibuk-ibuk ini memaknai ngurus anak, ngurus suami, ngurus rumah, adalah ibadah. Misal anak tantrum, ya jangan marah, nahan marah kan ibadah, plus kalau istighfar biar anak cepet ilang tantrumnya kan juga ibadah. Atau ditinggal suami tidur pas cerita ya jangan ngambek wkwkkw tapi sebel aja wkwk. Enak banget gua ngomong haha. Belum ngerasain padahal.  


Ya sudah lah para penonton blog saya. Itu Cuma uneg-uneg saya yang terlintas selama perjalanan menuju rumah abis beli pecel wkwk. Buru-buru ditulis keburu lupa entar. Oh iya saya belum ngerasain ya suka duka jadi ibu karena masih jadi mahasiswa wkwk. Saya pun belum tentu mampu menjadi ibu yang sesempurna itu, masih harus banyak belajar, praktikan apa yang gua omongin wkwk, dan nulis lebih mudah daripada praktiknya wkwk. Tapi ya kita sama-sama buat jadi yang terbaik lah yaaa. Semoga tulisan saya bisa dijadiin pelajaran, diambil yang baek-baek, dan  bisa meningkatkan kecintaan kita sama ibu dan peran kita dimanapun. Saya nggak maksa kalian jadi ibu rumah tangga. Silahkan mau ambil peran apapun itu pilihan kalian. Yang penting maknai peran kalian sebaik mungkin yaaa salah satunya sebagai ibadah kalian.

Selamat hari ibu….
Terima kasih yuk ke ibu kita…
Sayangi diaa yaaa…
Wkwkkw.


#30haringeblog
#30haribercerita
#challenge30haringeblog
#30harinulisblog 
#harikedua

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Assalamualaikum 2020, maaf terlambat mengucapkan salam kepadamu. E tapi sebelum ngomongin 2020, saya mau flashback dulu ya. Nostalgia bentar ehe. Sebenernya ini bukan momen terbaik sih, tapi momen yang paling nyentuh di kehidupan saya wkwk sampai ingat terus ehehhe. So here it comes, the best moment in 2019:

1. I met someone

Bulan Januari 2019, tepatnya tanggal ini (wah udah setahun ya), I met someone who made me change. Banyak banget drama yang terjadi dengannya dari mulai saling tolong, kerja sama, musuhan, marahan, dan nasihat-nasihat yang terselipkan. Sampai pada waktunya, entah kenapa perubahan luar biasa terjadi padau saya yaitu ‘saya bias jujur dengan diri saya sendiri’. May be I can’t explain it more detail because it’s my privacy. Tapi yang pasti bertemu dengannya adalah momen terbaik di tahun 2019, and I can’t forget it. Thank you for this moment 😊

2. Ramadhan 1440 H

Yap bulan suci yang pahalanya berlipat ganda masuk ke list best moment 2019. Ramadhan pertama di tanah rantau, jauh dari keluarga, tapi banyak momen yang mensupport saya untuk benar-benar memanfaatkan Ramadhan ini. Saya suka saya suka wkwk. Mulai dari bukber, makanan gratis yang hamper selalu saya dapatkan tiap hari, sampai tarawih di mrp lalu mampir ke bazar wkwk. Dan masih banyak peristiwa yang nggak bias saya sebutin lah. Thank goodness for all.

Baca: Unpredictable Lebaran


3. I can get money

Lucu ya momennya, kayak langsung saya dijudge sebagai orang mata duitan wkwk. Tapi beneran, 2019 saya mendapat banyak rezeki dari Allah berupa uang. Yang pertama adalah saya mendapat beasiswa LPI berupa beasiswa asrama dan uang saku bulanan. Disusul yang kedua adalah beasiswa PPA berupa uang saku bulanan juga tapi diberi langsung satu semester. Kemudian yang terakhir, hasil kerja parttime saya. Jadi ceritanya saya punya target buat kerja parttime di bulan desember 2019 waktu habis UAS, eh alhamdulilah Allah mengabulkannya lebih awal di bulan September. Dan tepat di bulan November saya banyak mendapat cuan wkkwk padahal saya banyak rebahannya karena sakit wkwk. Alhamdulilah. Checklist tertambah pada planning saya.

4. Sakit

Momen nostalgia berikutnya adalah pertama kali saya sakit (agak berat) di tanah rantau Biasanya sakit biasa kayak pusing mikirin HELL (matkul rawan nilai C), mag karena telat makan, atau sariawan dan flu ehehe. November 2019 Allah pengen menggugurkan dosa-dosa saya melalui sakit tipes yang saya derita. Langsung off satu bulan kecuali kuliah. Enak dong rebahan terus wkwk, tapi momen ini memberikan saya pelajaran banyakk sekali. Nanti saya buat tulisan terpisah ya tentang ini.

5. Jalan-jalan

Tahun 2019 saya menginjak 3 kota selain Malang dan Nganjuk. Awal Januari saya pergi ke Banyuwangi, Agustus saya pergi ke Solo, dan Desember saya pergi ke Surabaya. Dari jalan-jalan itu yang momen yang paling mengesankan dan wow adalah saat saya pergi ke Surabaya. Terlihat seperti kota yang nggak jauh dari Malang, tapi bagi saya pergi ke Surabaya di bulan Desember kemarin perjalanan terbaik di tahun 2019. Terima kasih yaaa sudah memberikan momen indah di tahun 2019 ini.

Yak itu lah 5 best moment in 2019. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kenangan saya di tahun 2019. See you in 2020.


***
Anyway, maafkan saya yang menggunakan Bahasa Inggris campur-campur. Bukannya sok Inggris, tapi terbawa kebiasaany wkwk. Sebab semester 3 saya tidak menulis blog sama sekali dan malah sok sibuk dengan matkul paragraph writing yang isinya nulis terus berlembar-lembar pake pulpen eheheh. Eh akhirnya ikut terbawa ke dalam tulisan ehehe. So sorry for that.




#30haringeblog
#30haribercerita
#challenge30haringeblog
#30harinulisblog 
#harikesatu
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me
Hallo, I'm Devanda! Seorang pelajar absurd yang nyasar di platform digital bernama blog dan suka ngoceh random dalam bentuk tulisan. Yuk kepoin blog aku dan berteman, berdiskusi bersama lewat dm ig: @pandamonokurobo atau drop ur email on devancpn30@gmail.com [Klik gambar selengkapnya]

Klik Follow dong biar seneng

Blogger Perempuan

Follow Sosmedku dongs

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Postingan Populer

  • Me Time
    Salah satu hikmah yang saya ambil saat saya sedang sakit di bulan November 2019 adalah tentang me time. Selama saya sakit kan goler-go...
  • OSPEK Part II: Maba Rebel
    Hari kedua ospek di bulan Agustus di usung oleh fakultas. Yaaaa ospeknya begitulah. Aku jarang main-main sama temen sejurusan waktu sebe...
  • Surabaya
    oya saya lupa nggak sempat foto-foto karena ngejar waktu takut kemalaman. Cuma ambil sedikit sekali foto. Sebenarnya pergi ke Suraba...

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  January 2022 (1)
      • Hal yang Aku Sesali Selama Menjadi Mahasiswa
  • ►  2021 (41)
    • ►  November 2021 (5)
    • ►  September 2021 (2)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  May 2021 (25)
    • ►  April 2021 (5)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (1)
  • ►  2020 (75)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  May 2020 (19)
    • ►  April 2020 (15)
    • ►  March 2020 (2)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (27)
  • ►  2019 (19)
    • ►  August 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  June 2019 (2)
    • ►  May 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  March 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (11)
  • ►  2018 (35)
    • ►  December 2018 (15)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (2)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (4)
    • ►  July 2018 (8)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
  • ►  2017 (3)
    • ►  December 2017 (2)
    • ►  November 2017 (1)

Categories

  • #30daysBPN
  • cerita receh
  • Curhat
  • Event
  • life
  • Makanan
  • Opini
  • parenting
  • review
  • Sejarah
  • semester 1

Kenalan dulu dong

Devanda C.P.N
View my complete profile

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates