Powered by Blogger.

Coffee Break Panda

BY DEVANDA C.P.N

"Sibukkan diri dalam kebaikan, hingga keburukan lelah mengikutimu."

Hoho sepertinya saya mulai lupa dengan nasihat dari guru ngaji saya... Udah jarang evaluasi sihh.. Mutabaah harian jarang ditepati haha maaf ya Allah. Tapi setidaknya  iman masih terkontrol, lindungi hamba dan beri keistiqomahan Ya Allah.

jadi kangen latihan manah bareng :")

Jadi keinget temen-temen yang bawaannya Al-qur'an dan semangat dakwah serta memperbaiki diri. Bahkan ada yg bela-belain dari Wilangan dateng di acara buat mendekatkan diri sama Allah. Terimakasih banyak mbakk udah bener-bener respect sama acara kita yang masih jauh dari kata sempurna, masih jauh kalo dibandingkan dengan acara-acara hebat yg ada di luar sana.

Kadang saya jadi mikir, betapa sayangnya Allah memberi saya waktu untuk tetap bergerak mensukseskan acara yg hanya untuk meraih ridho-Nya di tengah kehetic-an saya dan temen-temen sebagai pelajar tingkat akhir. Betapa Allah Maha Baik memberi takdir kepada saya, menggerakkan hati saya dan teman-teman untuk terus maju berdakwah sedangkan kami dalam posisi yang harusnya menyiapkan serangkaian ujian wkwk. Masih saja bisa menyempatkan di hari weekend untuk temen-temen yang cari ilmu agama, cari komunitas yang baik. Masya Allah Tabarakallah. Semoga saya dan teman-teman yang lain selalu istiqomah beribadah, senantiasa dalam naungannya, dan tak lelah dalam melakukan hal yg berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.

Bener-bener kangen dan rindu. Ya Allah... Semoga Engkau beri kesempatan hamba, teman-teman, dan pembaca blog saya untuk ikut andil dalam berjuang menyebarkan kebaikan. Aamiin.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebelumnya maafkan gue yang baru ngisi blog hari ini. Karena seminggu lebih gue di malang buat ngurusin kampus. Maklum, maba, jadi sok penting ke luar kota.

Well, kali ini gue mau nulis pandangan gue tentang hot news di bulan Mei ini. Tentang teror bom. Sebelumnya gue udah ada plan nulis tema lain setelah dari Malang. Cuma setelah lihat postingan temen-temen gue banyak yang angkat bicara soal ini. So, okedeh gue juga ikutan. Padahal sebelumnya sih gue no comment.

Well, gue turut berbela sungkawa dan berduka atas kejadian yang melanda Mako Brimob Depok dan pengeboman beberapa tempat di Surabaya dan sekitarnya. Jujur gue agak bosan denger berita kayak gini. Bosannya bukan karena kejadiannya, ya ini takdir kita nggak bisa menghindar. Yang gue nggak suka adalah sebentar lagi pasti akan saling menyudutkan golongan. Maksud gue, jelas mengkambing hitamkan nama islam. Nah ini nih yang gue kesel. Karena dari dulu gue selalu bilang orang-orang di Indonesia itu masih kurang open minded. Makanya terjadi penyudutan golongan atau saling menyalahkan kelompok yang berujung pada tindakan “membenci” atau “anti-golongan X”.

Dan bener aja, setelah kejadian itu, besoknya gue lihat berita, islamphobia dan diskriminasi mulai marak lagi. Bahwa kepolisian menghimbau waspadai orang bercadar. Nah disini gue agak bingung yang salah siapa. Kalau sudut pandang gue sebagai warga negara, ya itu jelas sangat mengganggu saudara gue yang sedang menjalankan kepercayaannya menggunakan cadar. Nggak seharusnya teroris disamakan atau dikaitkan dengan cadar atau ciri-ciri lain (gue nggak mau nyebut). Teroris ya teroris. Wanita bercadar ya wanita bercadar. Katanya Indonesia mayoritas islam, ya hargai rakyatnya yang memiliki keyakinan dengan bercadar. Mereka juga saudara kita, beragama islam pula. Wajib dihargai dan dilindungi.

Nah tapi, kalau gue lihat dari sudut pandang kepolisian atau pemerintahan, mereka takut atau waspada terorisnya menyamar dengan bercadar. Melakukan kejahatan dengan bersembunyi dibalik cadar. Karena di Saudi Arabia banyak yang kayak gini. Laki-laki menyamar menjadi perempuan dengan menggunakan cadar. Makanya gue juga bingung. Jadi gue bilang dari dua sudut pandang ini.

Gue tau teroris yang melakukan pengeboman atau pembunuhan itu melakukan tindakan yang salah. Tapi gue selalu bilang kalau kita jangan asal nge-judge tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya. Kita nggak tau gimana jalan pikiran teroris ini, mungkin mereka merupakan pesuruh-pesuruh seseorang, mungkin juga mereka memiliki pola pikir atau cara pandang jihad yang salah. Mungkin juga mereka bisa berpikir sampai melakukan hal yang kita anggap keji itu sebab pengaruh-pengaruh liar yang gila. Kenapa gue menambahkan kata “anggap”, karena pelaku berpikir itu tindakan jihad bukan keji. Yang mau gue omongin disini adalah jangan kita saling menyalahkan. Ya gue tau mereka, yang teroris lakukan dengan mengebom tempat ibadah itu salah. Salah besar.  Ya kita salahkan orangnya, pola pikirnya, dan tindakannya. Jangan agama atau golongan lain. I mean menyalahkan orang islam. Introspeksi diri aja. Balik ke pribadi masing-masing.

Maksud introspeksi diri adalah ya kita jadikan hal ini pembelajaran buat kita. Sebenarnya mereka-mereka seperti itu muncul juga tidak semuanya salah diri mereka sendiri. Justru dari sikap kita ke orang lain yang bisa mengakibatkan hal seperti itu. Misalkan seperti ini, kita tau pendidikan di Indonesia tengah berusaha untuk ditingkatkan, tapi pendidikan di Indonesia masih dikategorikan menengah ke bawah kualitasnya. Warganya masih kurang terbuka pemikirannya. Maksud gue open minded bukan liberal. Nah disisi lain banyak orang-orang dari sekitar kita yang mendapat perlakuan berbeda. Contohnya pem-bully-an, nggak punya temen. Dan orang-orang kayak gini tentunya tersiksa dengan perlakuan yang berbeda. Sedangkan kita egois ngurus hidup kita sendiri. Ikut-ikutan nge-bully. Akhirnya, orang-orang kayak gini butuh pelarian atau butuh pengakuan diri bahwa mereka ada di bumi ini. Dengan pendidikan yang masih kurang, pola pikir yang semrawut, dan lagi perlakuan lingkungan yang menyiksa ini, mereka akan melakukan hal-hal ekstrim. Bisa saja balas dendam dengan membunuh, menembak, atau melakukan hal-hal yang tak terduga. Bisa juga dimanfaatkan oleh sekelompok orang dengan dicuci otaknya. Sehingga melakukan hal-hal yang sembrono seperti pengeboman atas nama agama bahwa itu jihad, atau mereka-mereka mendapat pengakuan dari sekelompok orang ini atas apa yang dilakukannya ini. Padahal semua itu nggak bener. Dan malah merugikan orang lain.

Semuanya itu kembali ke diri kita masing-masing. So, that’s why kenapa pendidikan itu penting. Nggak hanya pendidikan akademik yang gue maksud. Tapi pendidikan moral, pendidikan agama apapun itu agama lo pasti ada ajaran bahwa pembunuhan itu merupakan kejahatan. Bahkan mungkin orang atheis atau agnostik yang bisa berpikir bener, mereka akan mengganggap bahwa membunuh itu salah, tindakan yang keji.

Berdasarkan hasil penelitian @irfanamalee di twitter yang gue kutip dari twitter-nya @arihdyacaesar, bahwa faktor yang paling menyebabkan peristiwa kayak gini terjadi adalah pola pikir pendidikan agama islam yang terlalu banyak membahas mengenai perang pada zaman Nabi daripada bahasan mengenai kasih sayang dari Nabi Muhammad Saw. Balik lagi kan masalahnya di pendidikan. Yang salah bukan shirahnya tentang perang, tapi diri kita bagaimana mem-filter pengetahuan, mengaplikasikan pengetahuan secara bijak, dan terus untuk belajar. Nggak hanya belajar pasal shirah peperangan saja, tapi juga belajar bagaimana Rasul kita bersikap dan menyikapi orang lain. Dan Rasul kita selalu memberi teladan yang baik. Menjadi orang yang lemah lembut, saling berkasih sayang, dan banyak lagi kepribadian luar biasa indahnya di dalam diri Rasul. Dan kita jangan lupa buat belajar itu juga. Bahkan tugas kita belajar sebagai orang tua dengan memberi asupan ilmu kepada anaknya secara bijak. Kembali lagi kan akarnya pendidikan lagi. Pendidikan cara mengasuh anak juga perlu.

Ilmu itu luas sekali. Dan tugas kita sebagai manusia adalah terus belajar dan menjadi orang berpendidikan. Bukan hanya belajar akademik, belajar buat kerja, tapi belajar moral, belajar menghargai, belajar bersikap dengan orang lain, belajar memahami sekitar kita, belajar peduli, belajar untuk tidak menyalahkan orang lain, belajar introspeksi diri, dan belajar-belajar yang lain. Oleh karena itu bener quotes-quotes yang bertebaran bahwa:

"With education, you can kill terrorism."



***

Gue minta maaf atas tulisan gue yang random acak-acakan ini. Ini adalah opini pribadi gue. Pandangan gue, hasil pikiran-perenungan, dan uneg-uneg gue. Gue nulis ini udah berusaha sangat berhati-hati, karena masyarakat zaman now mudah sensitif. Gue minta maaf kalau gue dan tulisan gue ini salah dan menyinggung kalian. Gue minta maaf yang sebesar-besarnya. Dan gue turut berduka cita atas apa yang menimpa kota, negara, dan bumi kita tercinta ini. 




With loves,
DEVANDA C.P.N




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Saturday, November 4th 2017

Hari ini emang hari sabtu, waktunya para pengangguran terselubung untuk weekend dongg. But, no for today! Jadinya gak bisa mbangkong deh….(mbangkong;bangun kesiangan. Bener gak sih tulisannya? Bodo amat.)

Jadi ceritanya, sabtu ini aku ke sekolah. Ada tes psikolog yang harus diikutin siswa kelas 12. Karena wajib bayar, jadinya gue ikut dongg. Rugi kalau nggak dateng. Padahal kalo nggak bayar, gue juga ikut kok. Pengen tau aja, kayak gimana tes psikolog.

Oke gue semangat tes, because gue suka kayak tes-tes kepribadian gitu. Pikir gue sih, tes psikolog tuh kayak tes kepribadian and potensi-bakat kita. Jadi kata guru BK gue, nanti hasilnya disinkronkan sama jurusan yang akan kita ambil. Sesuai nggak jurusan yang kita ambil dengan passion kita? Kek gitu cerita awalnya. 

Nah saking semangatnya (sebenernya gak semangat banget sih karena tau ternyata tesnya 5 jam, wow) gue berangkat pagi. Nah nggak tau kenapa gue bisa berangkat pagi hari ini. Nggak kayak biasanya yang sukat mepet-mepet deadtime. Gila, gue berangkat jam 6 dari rumah. Nah berhubung pesan dari guru BK kalau kita disuruh bawa cemilan, karena nantinya tes selama 5 jam nggak ada istirahatnya. Makanya suruh bawa cemilan ringan biar nggak lapar dan bosan. Posisi, gue otw nggak bawa jajan apa-apa.  Masa nanti temen gue ngemil, gue enggak, kan nggak sip. Mampirlah gue ke pasar cari jajan. Gue pengen beli kacang telur yang ada di belakang pasar. Ke sanalah gue, pikir gue sih udah buka. Pasar kan lebih awal bukanya #hahay. Tapi ternyata tutup. Oke gue beli minum dulu ke minimarket. Gue balik lagi masih tutup, yaudah gue beli jajan ke minimarket, balik lagi lah, ngabisin bensin tau. 

Eh ternyata udah jam 6.46, bentar lagi dimulai dong tesnya (katanya sih jam 7 dimulai). Tapi waktu mendarat di sekolah, parkirannya kok masih sepi? Yaelah ternyata dimulainya jam 8. Kalau tau gini, gue bisa beli kacang kan.

Oke pada akhirnya tes dimulai. Awalnya gue pikir selama lima jam nantinya, selain ngerjain soal tes, kita diberi aktifitas lain yang menyangkut pengenalan diri. Kayak diberi permainan, atau infromasi cara mengenali bakat dan minat kita. Atau bisa juga diberi motivasi dan arahan, contohnya seperti cara memilih jurusan yang tepat. Kenyataannya tidak sesuai ekspetasi. Gila, selama lima jam CUMA ngerjain soal yang banyak banget. Kira-kira sampai 2000an soal deh. Sumpah payah banget otak gue. Gue juga sih nggak mau ngawur jawabannya. Ditambah lagi jajan yang gue beli tadi pagi, sampai ngabissin bensin gue, GAK KEMAKAN.  Padahal gue beli jajan udah habis banyak. Tau gitu bisa dapat kacang telur favorit gue dua kali lipat. Deva juga sih terlalu serius haha. Ya gue kan pengen tau aja, gue manusia kayak gimana sh. Eh tapi bener-bener di luar ekspektasi gue banget. 

Awalnya semangat, lama-lama menjadi hal yang membosankan dan pikiran mulai jenuh serta mawut. Otak gue dah capek. Bahkan satu jam setelah ngerjain ribuan soal itu, rasanya nafas gue masih terengah-engah kayak dikejar orang, haha. (Biasa aja kali, Devanda.)

Ditambah lagi tadi ada kata dalam soal yang gue nggak paham. Di soal ada pilihan pekerjaan “ahli ‘rongen’”. Gue kan nggak ngerti, ya gue tanyain ke petugasnya. Gue tanya, pekerjaan ahli ‘rongen’ itu apa ya? Dan gue diketawain temen sekelas gue. Beneran gue baru tau kalau ‘rongen’ itu dibaca ronsen. Whatt. Tapi biasa aja sih, haha. Gitu doang.

Eh kebosanan gue mengerjakan ribuan soal itu ditambah peristiwa yang memalukan di masjid. Oh no!!! Jadi gue tadi langsung cabut dari sekolah, udah sumpek lihat pemandangan sekolah gegara soal yang membosankan. Gue kabur ke masjid. Habis sholat, perut gue lapar. Gue makanlah bekal gue di masjid, tapi gue bingung mau makan di mana. Nggak mendukung banget deh tempatnya. But, karena sepi gue yakinin diri gue “gapapalah dilihat orang, pede aja, Dev”. Awalnya ada, ibu-ibu tua (ibunya satuya) lewat di depan geu, biasa aja. Eh dari tengah-tengah gue makan, ada seorang bapak-bapak (bapaknya satu ya) sama anaknya yang masih kecil lewat di depan gue nggak biasa-biasa aja. Jalan di depan gue sambil senyum kayak mengejek atau ngetawain gue. Intinya kayak ngece gue deh. Soalnya gue makan di bawah tepat di jalanan menuju tempat wudhu dan gue makan nasi bungkus tanpa sendok, alias muluk (makan dengan jari tanpa sendok). OMG, persis kayak orang mbambong (kayak anak terlantar) nggak sih? Sialan, gue jadinya nggak nafsu makan lagi. Langsung gue kemas lagi makanan gue dan gue berdiri sambil bawa kotak minuman biar agar keren gue beli minuman kotak, haha. Sumpah gue malu banget. Langsung gue cepet-cepet pergi dari masjid.

Sebenarnya sih gue cuma mau menyimpan cerita ini ddalam tulisan aja. Biar nggak hilang. Awalnya gue pengen mengekspresikan di twitter, tapi gak muat. Karena gue suka mengekspresikan emosi dan mood gue di twitter. Ya udah, gue tulis di blog aja. Thanks for reading.

Bye.

Btw, pengangguran terselubung itu apa, ya?



 ***

 Maaf banget baru publish, karena gabut. Dan maaf banget atas ketidakjelasan blog ini. Terimakasih.
 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pertanyaan yang sering terlontar kepada anak SMA kelas 12 adalah "Mau kuliah dimana?". Simple. Tapi bagi kami, ‘kaum tingkat akhir’ sangat sulit menjawabnya. Ya masalahnya, kita dilanda galau. Galau menentukan pilihan hidup di awal usia menginjak dewasa. “Enaknya gue kuliah, kerja, atau buat keluarga (eh)?”



Tapi kalau di SMA gue mah galaunya bingung ambil jurusan apa? Termasuk gue, sedang dilanda kegalauan waktu masuk semester akhir bukan waktu awal kelas dua belas. Gue yang biasanya happy dan gak pernah galau (mungkin), seketika jadi galau kebingungan. Apalagi nih semakin dekat dengan tanggal pasca UN (ngerti nggak maksd gue?), kita makin bingung. Parahnya kita nggak bisa jawab "Hehe masih bingung nih aku". Karena bakal disanggah, "Kok masih bingung? Ini udah makin dekat kalian kelar sekolah". Terus kalo ditanya sama temen yang udah mantab jurusannya, "Kok masih belum pasti? Lo harus tentuin dong. Kasihan temen lo yang nilainya di bawah lo. Jangan nikung ya lo!". Dikira kita malu-malu kucing buat ngomongin jurusan yang kita pengen (baca: nyembunyiin). Padahal kita beneran masih bingung coyyy. Lu pikir gampang.


Ngomongin tentang nikung-menikung, ‘hot’ juga nih di SMA gue pekan snmptn. Ada acara ‘rebutan jurusan’. Meriah nggak? Hhmm dramatis sih. Kasihan temen gue sampe nangis gara-gara berebut jurusan. 

Jadi ceritanya gini, di sekolah gue buat yang ikut jalur snmptn (baca: undangan) disarankan untuk nggak milih jurusan yang sama dalam satu sekolah. Biar peluang diterimanya gedhe. Paling nggak satu universitas ngasih jatah ke SMA gue satu anak. Begitu sih rumornya. Nah, perebutan terjadi jikalau ada ‘anak yang peringkatnya di atas’ tiba-tiba pilih jurusan yang sebelumnya udah dipilih sama ‘anak yang peringkatnya dibawahnya’. Bahasa temen-temen gue sih ya ‘nikung’. Lalu rebutan dan adu argumen lewat chat. “Nggak kasihan emang lo sama gue, gue itu bodoh makanya biar gue aja yang diterima. Elo kan pinter makanya ikut jalur tes aja”. Terus dibalas sambil mengelap air mata, “Elo juga nggak kasihan apa, kalo gue nggak jadi dokter hewan, siapa yang ngobatin kucing gue kalau lagi kena flu burung?”.

Ya menurut gue sih nggak perlu-lah kita sampe segitunya. Bertengkar merusak silaturahmi gara-gara milih jurusan. Kan juga belum tentu keterima meskipun yang ngambil jurusan itu cuma satu anak. Wong ada tiga orang pilih di jurusan yang sama buktinya keterima semua. Gue sendiri kalau digituin sih ya mencoba untuk biasa aja. Oke nggak apa-apa. Bahkan nih ya, ada yang chat gue dari anak ips karena gue ambil soshum. “Devanda, kamu jadi ambil psikologi UM?”. Gue langsung jawab, “Iya dipilihan kedua. Ambil aja kalau mau. Nggak papa kok”. See? Udahlah siap-siap aja buat yang jalur tes. Ya belum siap nih gue. Sadar diri buat rajin belajar udah terlambat. Elo kan udah siap, makanya bisa ngomong gitu. Ya sama gue juga belum siap. Tapi siap nggak siap, deadline nggak deadline, tetap belajar. Emang kalian tau, gue memutuskan ambil soshum tanggal 14 Februari? Waktu yang terlalu mepet. But, it’s ok. Belajar aja, daripada nggak belajar sama sekali. Jangan terlalu berharap banyak di jalur undangan. Jalur undangan kadang nggak ketebak. Daripada ujungnya dikecewain. Udah banyak cerita kakak kelas yang di-php-in sama snmptn. Kalian mau jadi korban berikutnya?

Baca: Rentang Kisah versi Pelajar Tingkat Akhir

Selain acara ‘Rebutan Jurusan’ ada juga nih acara ‘Bertaubat’. Tak jarang temen gue berubah 180 derajat. Dari yang awalnya baca novel Dilan jadi rajin baca qur’an. Masjid yang ramainya cuma jam 12 siang, sekarang ramainya jadi lebih awal. Jam setengah tujuh udah ramai buat salat dhuha. Waktu jam kosong banyak yang kutu buku bukan kutu hape lagi. Bahkan yang super pelit malah jadi dermawan. Suka traktir temen. Sampai-sampai nyisihkan ikan buat kucing sebelah (baca: sedekah). Semuanya berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Wah salut gue sama temen-temen gue. Semoga istiqomah ya.

Nggak cuma ibadah yang berubah, jalan pikiran kita juga berubah. Kita tiba-tiba jadi orang yang "be realistic" menjelang pendaftaran masuk kampus. Maksudnya, lebih sadar diri akan posisi diri sendiri dengan melihat rekam nilai kita masing-masing.  Jadi yang awalnya kita ambil jurusan FK, kemudian berpikir ulang sambil melihat nilai rapot yang telah diukir selama SMA. “Kayaknya ketinggian deh kalo gue ambil jurusan FK, nilai gue berantakan kayak gini”. Akhirnya nggak jadi pilih FK dan ambil spesialis jantung. Gara-gara merasa temen kita yang peringkat atas lebih pantas.

Well. Segitu dulu sharing gue dari bebrapa hal yang gue amati dan alami selama menjadi pelajar kelas dua belas. Pesen gue buat yang belum ngerasain jadi pelajar tingkat akhir adalah belajar dari awal. Siapkan di awal dengan belajar. Pokok tetep belajar aja, jangan nunggu deadline. Kalau udah hampir deadline ya tetap belajar aja daripada nggak sama sekali kan ya... 

Tapi juga jangan serius amat belajarnya. Jangan lupa makan, doa, tidur, bantu orang tua, dan ambil jemuran, nanti kehujanan soalnya. 




Ini dia sebagian kecil dari pelajar tingkat akhir. Kalau kalian ada yang mau PDKT bisa hubungi gue lewat DM. Ups.

Baca: Jangan berputus asa dari rahmat Allah



Sincerely,
DEVANDA C.P.N
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebelum saya menyapa kalian, saya mau menyapa tahun 2018 dulu ya. So, hallo tahun 2018! Tahun 2018 juga ngejawab kok, welcome Devanda in my life. But you’re late to say that. Terus saya jawab, Bodoo!! Karena saya dari bulan Januari jadi orang SOK sibuk, jadi ini adalah blog pertama saya di tahun 2018.

Giliran saya menyapa semuanya. hallo semuanya! Hallo blog! Sorry banget ngediamin kamu lama banget. Taulah, saya harus menjalani serangkaian ujian di sekolah.

Daaannn... sekarang UN udah selesai, yeay! Tapi kata pepatah di instagram bergenre “masuk kampus” mengatakan bahwa “Habis UN, Terbitlah SBMPTN”. Fine! Artinya saya belum 100% merdeka dari pe.la.ja.ran. S.M.A. Tapi tenang, saya sebagai bangsa Indonesia udah merdeka kok. Tapi saya masih malas buat buka buku sbm. Beri saya waktu buat take a rest dulu. Saya pengen nge-youtube dulu ya.

Di tengah-tengah merdeka atau tidak ini sebenarnya otak saya udah ada acara sendiri buat nge-plan hal apa aja yang pengen saya lakuin dan pelajarin. Salah satu plan otak  saya yaitu “lebih aktif mengetik di blog lalu mempublikasikan”. Kalo nggak dipublish kan nggak bisa dibaca hasil ketikan saya. Dan saya udah punya banyak ide tulisan untuk blog. So, stay tuned ya!

Cuma entah kenapa di list tersebut nggak saya temuin tulisan “belajar sbmptn”.  Cuma sih sebulan yang lalu saya udah nge-list di kalender tentang jadwal belajar sbmptn setelah UN. Nggak tau nanti terlaksana atau hanya wacana.

Eh setelah dipikir-pikir, kayaknya saya bakal tetap belajar deh. Ya sambil lihat video TEDx disambi belajar sejarah ya, Deva. Ingat, SBM tinggal beberapa hari lagi!

Well, segitu dulu BASA-BASI saya. Iya, saya cuma mau ngomong itu aja kok.

Saya nggak tau mau nge-post kapan di blog. Saya pengen nge-youtube dulu sebagai penghormatan atas berakhirnya UN di kehidupan saya haha. Padahal UN yang sebenarnya udah menunggu. Bukan UN deh namanya, tapi UH. Ujian Hidup.

So, see you.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me
Hallo, I'm Devanda! Seorang pelajar absurd yang nyasar di platform digital bernama blog dan suka ngoceh random dalam bentuk tulisan. Yuk kepoin blog aku dan berteman, berdiskusi bersama lewat dm ig: @pandamonokurobo atau drop ur email on devancpn30@gmail.com [Klik gambar selengkapnya]

Klik Follow dong biar seneng

Blogger Perempuan

Follow Sosmedku dongs

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Postingan Populer

  • Me Time
    Salah satu hikmah yang saya ambil saat saya sedang sakit di bulan November 2019 adalah tentang me time. Selama saya sakit kan goler-go...
  • OSPEK Part II: Maba Rebel
    Hari kedua ospek di bulan Agustus di usung oleh fakultas. Yaaaa ospeknya begitulah. Aku jarang main-main sama temen sejurusan waktu sebe...
  • Surabaya
    oya saya lupa nggak sempat foto-foto karena ngejar waktu takut kemalaman. Cuma ambil sedikit sekali foto. Sebenarnya pergi ke Suraba...

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  January 2022 (1)
      • Hal yang Aku Sesali Selama Menjadi Mahasiswa
  • ►  2021 (41)
    • ►  November 2021 (5)
    • ►  September 2021 (2)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  May 2021 (25)
    • ►  April 2021 (5)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (1)
  • ►  2020 (75)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  May 2020 (19)
    • ►  April 2020 (15)
    • ►  March 2020 (2)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (27)
  • ►  2019 (19)
    • ►  August 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  June 2019 (2)
    • ►  May 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  March 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (11)
  • ►  2018 (35)
    • ►  December 2018 (15)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (2)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (4)
    • ►  July 2018 (8)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
  • ►  2017 (3)
    • ►  December 2017 (2)
    • ►  November 2017 (1)

Categories

  • #30daysBPN
  • cerita receh
  • Curhat
  • Event
  • life
  • Makanan
  • Opini
  • parenting
  • review
  • Sejarah
  • semester 1

Kenalan dulu dong

Devanda C.P.N
View my complete profile

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates