Powered by Blogger.

Coffee Break Panda

BY DEVANDA C.P.N



Kali ini aku akan berbagi tulisan tentang hasil renungan yang aku ingin tulis, namun nyatanya Allah memberikannya secara bertahap dan berdasarkan kebutuhan kita. Kisah ini diawali dari keinginanku punya usaha saat kuliah tapi inginnya pas kelas 3 SMA wkwkkw. Aku itu terus berdoa buat memiliki usaha dengan target sekian nominalnya. Bukankah kalau meminta harus spesifik?


Aku ingat, awal aku jualan mandiri, nggak gabung sama tim, benar-benar individu yang berdiri sendiri. Bahkan sekarang aku pun bertanya kepada diri sendiriku, kok berani ya aku senekad dulu? wkwk


1. Memulai Usaha Makanan, Berujung Tidak Laku


Ceritanya waktu itu habis dapat ilmu digital marketing di Instagram. Kupikir aku sudah cukup ilmu guys dalam hal pemasarannya, rupanya aku salah, permainan baru dimulai wkwkw. Hal itu masih pemanasan dalam bisnis. Aku sudah menyiapkan produk, (ceritanya ini ready stock ya), lalu melakukan launching produk. Semua ilmu instagram marketing aku praktikkan, kecuali ads-karena aku belum berani ngiklan. Takut rugi wkwk padahal mah aku udah rugi. 


Seluruh orang yang aku kenali kukabarkan kalau “Ini lho he aku jualan” wkwkwk. Menurut live ig seorang pebisnis, memulai bisnis itu dengan menawarkannya pada kerabat terdekat. Membangun trust terlebih dahulu untuk membuat testimoni nantinya. 


Meskipun aku sudah mempraktikkannya, beberapa teman dekatku membelinya, tapi aku rasanya masih kurang dan merasa gagal. Ekspektasiku bakal laku keras wkwkwk, tapi kok cuma temenku satu daerah membelinya. Aku juga menerapkan teknik closing ke teman-teman SMA-ku, tapi kebanyakan di-read saja. Cuma dua orang menanggapi pesanku wkwkwk. 


Langsung pas momen itu kayak aku baper, sedih, dan bingung. Kok nggak jalan nih ilmunya. Beda pas aku jualan bareng temen, kerja jadi sales. Tiap penawaranku langsung goal gitu wkwk. Kemudian aku analisa, apa yang terjadi, mengapa demikian bisa terjadi. Hasil analisisku adalah pertama, aku dulu jadi sales menjual produk kebutuhan dan menawarkannya ke target pasar yang tepat. Sedangkan produk camilanku ini bukan kebutuhan pokok, lagian siapa yang bisa memetakan target pasar spesifik orang yang suka ngemil wkwk. Kedua, aku menyadari ya inilah mentalku dilatih haha. Ketiga, aku menyadari bahwa aku kurang sekali ilmu dan keterampilannya. Keempat, usaha ini nggak masuk buat diriku wkwk, belum nemu polanya. Ya bisnis itu punya pola masing-masing yang sulit dijelaskan bagiku. Akhirnya, aku menutup kasus ini dengan menjalin silaturahim dengan teman lamaku yang jago marketing. Siapa tahu dia bisa membantuku wkwkwk.


Perjalanan usahaku kembali dimulai dengan belajar - praktik - belajar - praktik dan seterusnya. Selama proses tersebut, Allah memberikanku sesuai kebutuhanku. Mungkin bisnis individuku tersebut tidak berhasil, belum laku banyak, karena bisa jadi kalau Allah langsung memberiku pelanggan mak bruk bruk, aku belum siap memenuhi permintaan pasar, ilmu masih amat seupil, jadinya malah bikin masalah nantinya, dan aku jadi belajar proses itu penting.


2. Strategi Serangan Udara


Setelah bertemu temanku, melakukan pendekatan, dan akhirnya ia mau membantuku. Tujuan utamaku waktu itu mewujudkan keinginan ayahku untuk membuka usaha di Malang. Jadi target pasarnya adalah orang Malang. Waktu itu agak aneh sih dan kurang yakin dengan strategi dari temanku itu. Aku pikir, aku harus ke Malang untuk menjalankan bisnis ini. Justru ternyata tidak. Aku mengendalikan aktivitas bisnisnya dari kampung halamanku. Hah memangnya bisa? Dia menyebutnya, “Strategi Serangan Udara”-kalau aku tidak salah mengingatnya.


Jadi aku mencari supplier di Malang yang bersedia untuk memproduksi, mengantar, dan menggunakan nama brand-ku saat ada pembeli dari hasil marketingku. Entahlah aku waktu itu agak tidak yakin hehe. Tapi aku melakukan dan mencoba saja. Saat mencari supplier itu, wuih pagi sampai malam. Aku baru tiba di tempatku pukul 20.30 WIB, bahkan orang tuaku sudah tertidur (Ya waktu itu orang tuaku pengen ikut hehe alias kintilan padahal aku sedang tidak berlibur). Berkat misi mencari supplier ini, aku menjadi berani menghubungi dan bertemu banyak orang tak kukenal. Ya karena terpaksa dan terdesak sebab aku tidak lama di Malang. Terlebih saat itu sudah masa pandemi uwau.


Bukan sampai situ saja, aku sampai harus ke Gunung Kawi untuk menemui seorang supplier wkwkwk. Waktu itu aku takut, khawatir kok rumahnya di pucuk kaki Gunung Kawi sih. Apalagi daerah itu kan terkenal…. hehe. Awalnya aku akan sendirian menuju kesana. Tapi rupanya ibuku mau menemaniku. Oh bersyukurnya punya support system dalam misi menghasilkan cuan hahaha. 


Ternyata aku salah besar gengs! Bapak supplier memilih tinggal di kaki Gunung Kawi karena ada misi spiritual yakni berdakwah-salah satunya. Alhamdulilah bersyukur aku bertemu seorang yang berlatar belakang agamis, setidaknya aku bisa mempercayakan brand-ku hehe. 


Karena hal ini, aku belajar bagaimana mencari supplier ya. Kalau mengingat teori bisnis model kanvas ada yang namanya, “key partners”. Oh jadi begini ya rasanya mencari partner. Aku juga merasakan bahwa saat kita berbisnis, kita ini sedang bekerja sama dan saling membantu lho. Ketika aku bekerja sama dengan supplier, mereka terbantu untuk kemajuan usahanya, mereka bisa menghidupi kebutuhan hidupnya. Wah aku baru menyadarinya. Kebaikan saling terhubung rasanya. 


Meskipun usahaku ini tidak lanjut, walau banyak banget yang menghubungi sebab marketingnya bisa dibilang berhasil. Sayangnya, produk dan kesiapan supplier masih kurang. Berkali-kali menolak pesanan pembeli, karena supplier kami tidak siap.


Namun, aku belajar. Lagi-lagi Allah memberikan sesuai kebutuhan. Di sini marketing sudah lancar-meskipun yang mengoperasikan bukan aku. Tapi aku belajar banyak hal. Di sini aku belum siap produk. Namun aku memperoleh ilmu yang bermanfaat bagiku untuk ke depannya.


Bersambung.....


Baca: Allah Memberi Sesuai Kebutuhan Kita, Bukan Keinginan Bagian 2


Masih ada 3 bagian lainnya, stay tune hehe


Baca juga : Rugi = Biaya Sekolah


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

2020 telah berhasil kita tutup dengan terbitnya 2021.

 

366 hari yang katanya menjadi tahun yang berat bagi semesta namun ternyata telah mengajarkan banyak hal.

 

Hanya saja, mengapa dan kenapa masih sering menjadi pertanyaan untuk insan yang terkejut pada realita.

 

Sebenarnya 2020 yg rumit ini hanya mau kita mengerti satu hal. Menerima. Apa yg kita alami dan apa yg telah terjadi ga akan bisa kita cerna, ga akan bisa kita terima, kalo kita ga mencoba untuk memahami latar belakang Allah membuat rumusan masalah ini pada thn 2020.

 

Coba mendekat. Mendekat pada Dia yang punya proposal skenario kehidupan. Mendekat agar mampu mengetahui maksudnya, memahami keinginannya dan mengerti alasannya.

 

Allah bikin semesta seperti ini krn Allah pengennya gitu. Untuk tiap debu yang belum rela dengan takdir Allah.

 

Coba deh ngertiin Allah, agar kamu ngerti sebenarnya apa yang terjadi pada hidupmu ialah yang terbaik. Kamu ga akan bisa memahami kondisimu klo kamu ga deket sama Allah dan nggak ngertiin Allah.

 

Mari Menutup tahun 2020 dengan syukur dan menyambut 2021 dengan semakin memahami Sang Pemilik Waktu. 

 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


 

Menjadi muslim memang memiliki konsekuensi sebagai pelopor perubahan. Karena ibadah kepada Allah bukan perkara hubungan kita dengan Sang Ilahi saja, tetapi hubungan kita dengan manusia yang lain juga dihitung ibadah.

 

Tauladan sudah berbicara dan memberi contoh, yaitu Rasulullah SAW. Guru tauladan yang memberikan segudang kisah mengenai bagaimana menjadi pelopor perubahan.

 

Ada tiga hal yang harus diperhatikan saat menjadi seorang pelopor, yaitu akal, hati, dan perbuatan.

 

1. Akal

Dengan berakal akan membuat kita menyadari dan memahami apa yang salah dan bagaimana yang seharusnya. Oleh karena itu menuntut ilmu menjadi kewajiban seorang mukmin agar kita tidak bodoh hidup disepetak bumi ini.

 

Oleh karena itu, saya pribadi tidak hanya menuntut ilmu dunia saja, tetapi berusaha meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu akhirat walaupun tidak melalui jalur formal. Sebab modal ilmu inilah yang membuat manusia memahami dan merefleksi tentang apa yang terjadi atau yang akan terjadi.

 

2. Hati

Hati adalah fungsi utama dalam menggerakkan fisik kita. Tanpa ada dorongan dari hati, kita akan malas atau asal-asalan dalam melakukan sesuatu. Niat ini yang akan menjadi tujuan akhir yang ingin

dicapai, sehingga akan menjadi parameter utama kesuksesan tindakan. Oleh karena itu,

penting untuk selalu mempertanyakan pada diri sendiri apa yang menjadi niat dari setiap

tindakan kita agar mampu menyadari betul niatnya. Dengan adanya niat kita akan termotivasi melakukan sestau, salah satunya menjadi pelopor perubahan. Tentu niat yang dipilih bukan sekedar untuk duniawi tetapi juga untuk kehidupan paska dunia. 

 

Penting juga untuk mencari motivasi atau inspirasi atau lingkungan yang mendukung, yang mampu merefleksi kembali tentang urgensi dalam kita melakukan sesuatu. Agar hati tetap bernaung pada yang semestinya.

 

3. Aksi Nyata

Ini mberbicara mengenai "how" atau bagaimana merealisasikan dari apa yang sudah kita usahakan mendapatkannya. Kita telah menuntut ilmu, tela menyempurnakan niat, lantas apa yang selanjutnya kita lakukan? Ya, yang kita lakukan selanjutnya ialah mengamalkannya.

 

Merealisasikan dari segala bekal yang kita dapatkan atau tempuh. Saat kita berniat menjadi pelopor perubahan, maka aksi nyata dari ilmu-ilmu dan bekal lain yang telah kita tempuh sangat penting. ya kita harus berani mewujudkannya. Dalam merealisasikannya, dibutuhkan sebuah keterampilan. Perubahan apapun yang ingin kita buat, pasti membutuhkan keterampilan tertentu untuk mengerjakannya. 

 

Semua bisa menjadi pelopor perubahan.

 

Semua bidang kehidupan memang membutuhkan pelopor perubahan. Sehingga kita sebagai manusia wajib memilih lingkungan atau bidang yang kita ahli disana untuk menjadi pelopor perubahan. 

 

Sebagai perempuan, kunci peradaban dunia, tentu memiliki pengaruh besar dalam menjadi pelopor perubahan. Oleh karena itu, walaupun jika saya nanti bekerja dari rumah atau banyak menghabiskan waktu atau melakukan aktivitas di rumah, tetap saja saya mampu berkontirbusi memberi perubahan yaitu dengan menjadi ibu bagi anak-anak kelak. Jangan pandang remeh peran seorang ibu yang hanya di rmah saja. Kontribusinya sangat besar bagi kehidupan walaupun kalau dilihat hanya merawat anak. tetapi apabila anak itu berhasil dididik oelh ibunya, maka akan memunculkan pahlawan-pahlawan yang mendukung tumbuhnya peradaban.

 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

Sejarah islam telah mengajarkan bahwa muslim harus memiliki sifat kekokohan mental dan spiritual. Sifat pertama dibuktikan dengan kisah Muhammad Al Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Sebelum menikmati kemenangan dengan menaklukkan Hagia Sophia, berkali-kali pasukan Al Fatih menelan kegagalan.

 

Mungkin hal ini terjadi karena Allah ingin menguatkan mental seorang muslim. Sebenarnya mudah bagi Allah untuk membuat pasukan Al Fatih menang. Namun Allah ingin menanamkan karakter penting dalam diri seorang muslim. Kekalahan berkali-kali mengajarkan muslim untuk membuat pilihan. Pilihan menyerah atau tetap melanjutkan perjuangan dengan menghadapi kesulitan. Seberapa kokoh mental seseorang terefleksikan berdasarkan pilihan tersebut.

 

Dalam sejarah Muhammad Al Fatih memilih untuk menghadapi kesulitan dan memperjuangkannya. Ia tak menyerah untuk mencari cara agar bisa menaklukkan Konstantinopel. Tentu karakter mental yang kuat dan kokoh telah ada dalam diri Al Fatih.

Dalam kehidupan saat ini, representasi kekokohan mental dapat kita jumpai dalam sehari-hari. Misalnya saja dalam hal berbisnis. Hampir seluruh pengusaha sukses pernah menela kepahitan untuk gagal. Bahkan mungkin berkali-kali gagal dan rugi dalam membangun sebuah bisnis. Karena dalam berbisnis kita harus memiliki mental yang kuat. Seiring terjadinya kegagalan-kegagalan tersebut, mental yang kuat akan terlatih.

 

Kokoh mental adalah karakter seseorang yang menunjukkan perilaku dan pilihannya dari kondisi yang menekan atau sulit menjadi suatu tempat bertumbuh lebih baik. Peristiwa yang sulit dan berat diubahnya menjadi lahan bertumbuh agar menjadi pribadi yang semakin baik. Konsepnya adalah semakin besar ujian yang diterima, semakin tinggi pula kesempatannya untuk bertumbuh lebih besar. Muslim yang memiliki kekokohan mental akan lebih berani dalam menghadapi hidup dan biasanya jarang dalam kondisi zona nyaman.

 

Kokohan mental bukanlah suatu karakter atau sifat bawaan sejak lahir. Sikap ini tumbuh seiring muslim mempelajarinya. Agar memiliki mental yang kokoh, mungkin kita bisa melatih diri untuk menantang diri agar keluar dari zona nyaman. Mengambil kesempatan untuk bertumbuh dan saat menemui ujian kita tetap bisa menguasai diri untuk membuat suatu ladang belajar terus bertumbuh. Menghadapi ujian memang tak mudah, tetapi kita harus berkomitmen untuk menghadapi dan menyelesaikannya.

 

Dalam membangun kekokohan mental, tentu tidak lepas dari kekokohan spiritual. Karena mental yang kuat akan dipengaruhi oleh tempat bergantung dan sandaran yang tepat. Kuat lemahnya seseorang tergantung pada sandarannya karena sandaran yang rapuh tidak akan mampu bertahan dalam menghadapi ujian. Keistimewaan Al-Fatih dan pasukannya yang lain, yang menjadi pondasi dari kualitas diri mereka adalah kekokohan spiritualnya.

 

Al Fatih dibesarkan dengan lingkaran yang memiliki spiritualitas kuat. Ia dikelilingi dan diajari oleh ulama-ulama terkemuka masa itu. Kondisi demikian sangat berpengaruh pada mentalitas Al Fatih. Sebab Al Fatih telah memahami bahwa sandarannya hanyalah Allah, sehingga apapun hasilnya nanti, ia hanya bisa berusaha. Konsep ini membuat diri seorang muslim menjadi berani karena mereka paham bahwa segala sesuatunya dikembalikan pada Sang Maha Kuasa.

 

Kekokohan spiritualitas ditunjukkan dengan aqidah yang lurus sebagai pondasi, dilengkapi dengan ibadah yang benar sebagai pengisi jiwa, dikuatkan dengan hawa nafsu yang terjaga, hingga akhirnya tercerminkan melalui akhlak yang kokoh.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


 

Sepertinya tidak ada wkwk. Karena aku sangat berjuang sekali di Ramadhan untuk menyeimbangkan antara duniawi dan target Ramadhan. Sangat sangat capek ges. Aku aja sempet nangis.

 

Tapi masih ada momen lebaran yang paling berkesan di tahun ini yaitu pas di kedai kopi habis teraweh, aku ngobrol dengan temanku dan dia memberiku sebuah petuah #azek wkwk yang membuatku terharu dan semangat wkwk. Cukup lebay tapi aku senang haha.

 

Momen kedua adalah bisa memberikan kesibukan bagi keluargaku. Karena aku mengadakan bisnis hampers jadinya ya bisa memberikan kesibukan di keluargaku. Alhamdulilah

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me
Hallo, I'm Devanda! Seorang pelajar absurd yang nyasar di platform digital bernama blog dan suka ngoceh random dalam bentuk tulisan. Yuk kepoin blog aku dan berteman, berdiskusi bersama lewat dm ig: @pandamonokurobo atau drop ur email on devancpn30@gmail.com [Klik gambar selengkapnya]

Klik Follow dong biar seneng

Blogger Perempuan

Follow Sosmedku dongs

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Postingan Populer

  • Me Time
    Salah satu hikmah yang saya ambil saat saya sedang sakit di bulan November 2019 adalah tentang me time. Selama saya sakit kan goler-go...
  • OSPEK Part II: Maba Rebel
    Hari kedua ospek di bulan Agustus di usung oleh fakultas. Yaaaa ospeknya begitulah. Aku jarang main-main sama temen sejurusan waktu sebe...
  • Surabaya
    oya saya lupa nggak sempat foto-foto karena ngejar waktu takut kemalaman. Cuma ambil sedikit sekali foto. Sebenarnya pergi ke Suraba...

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  January 2022 (1)
      • Hal yang Aku Sesali Selama Menjadi Mahasiswa
  • ►  2021 (41)
    • ►  November 2021 (5)
    • ►  September 2021 (2)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  May 2021 (25)
    • ►  April 2021 (5)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (1)
  • ►  2020 (75)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  May 2020 (19)
    • ►  April 2020 (15)
    • ►  March 2020 (2)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (27)
  • ►  2019 (19)
    • ►  August 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  June 2019 (2)
    • ►  May 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  March 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (11)
  • ►  2018 (35)
    • ►  December 2018 (15)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (2)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (4)
    • ►  July 2018 (8)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
  • ►  2017 (3)
    • ►  December 2017 (2)
    • ►  November 2017 (1)

Categories

  • #30daysBPN
  • cerita receh
  • Curhat
  • Event
  • life
  • Makanan
  • Opini
  • parenting
  • review
  • Sejarah
  • semester 1

Kenalan dulu dong

Devanda C.P.N
View my complete profile

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates